
Fokusmedan.com : Keberadaan Daya Tarik Wisata (DTW) Patung Yesus Sibea-bea di Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, menjadi fenomena menarik dalam perkembangan pariwisata di Sumatera Utara. Destinasi wisata religi ini tidak hanya menghadirkan magnet baru bagi wisatawan, tetapi juga membawa berbagai perubahan dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat desa di sekitarnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Drs. Hasoloan Marpaung, M.Hum dari Politeknik Pariwisata Medan mengungkap bahwa dampak pariwisata di kawasan ini bersifat kompleks mengandung potensi besar sekaligus menyisakan sejumlah tantangan yang perlu dikelola secara bijak.
Secara ekonomi, kehadiran wisata Sibea-bea terbukti mendorong tumbuhnya aktivitas usaha masyarakat lokal. Di Desa Sihotang, misalnya, mulai bermunculan penginapan, homestay, serta rumah makan dan jasa binatu (laundry) yang sebelumnya tidak ada. Bahkan, jumlah penginapan milik warga lokal kini mencapai hampir sepuluh unit dan berkembang secara mandiri meski belum mendapat pembinaan langsung dari pemerintah.
Hal ini menunjukkan telah terbangunnya inisiatif masyarakat dalam menangkap peluang ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
Lonjakan jumlah wisatawan, terutama saat musim ramai seperti pada musim libur sekolah dan hari Besar seperti Hari Natal dan Tahun Baru, Hari Raya Idul Fitri dan yang lainnya telah menciptakan kebutuhan akan akomodasi dan konsumsi. Kondisi ini membuka ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan melalui usaha kuliner dan jasa penginapan serta meningkatkan penjualan bagi pedagang seperti Mart dan yang lainnya.
Menariknya, terdapat segmentasi pasar yang terbentuk secara alami: fasilitas di kawasan utama wisata cenderung melayani wisatawan kelas menengah atas, sementara masyarakat desa menyediakan layanan yang lebih terjangkau bagi wisatawan umum. Pola ini secara tidak langsung membantu distribusi ekonomi di tingkat lokal.
Namun demikian, optimalisasi perolehan dan distribusi manfaat ekonomi tersebut belum dirasakan secara merata. Di Desa Turpuk Limbong, misalnya, keterlibatan masyarakat dalam sektor pariwisata masih terbatas. Dari sekitar 200 kepala keluarga, hanya sebagian kecil yang terlibat dalam usaha wisata seperti produksi makanan lokal (bandrek dan sasagun).
Rendahnya kualitas sumber daya manusia, minimnya keterampilan, serta pola pikir yang masih bergantung hanya pada sektor pertanian an belum membuka diri kepada peluang baru yang didatangkan oleh pariwisata menjadi faktor penghambat utama.
Dari sisi sosial, perubahan yang terjadi cenderung positif namun belum signifikan. Masyarakat mulai menunjukkan keterbukaan terhadap wisatawan dan peluang pariwisata. Generasi muda, khususnya, mulai menyadari pentingnya keterampilan seperti kemampuan berbahasa Inggris sebagai respons terhadap interaksi dengan wisatawan asing.
Selain itu, pada tahap kekiknian tidak ditemukan konflik sosial yang berarti, yang menunjukkan bahwa pariwisata masih berada pada tahap penerimaan oleh masyarakat. Lebih tepatnya belum ada penolakan yang signifikan terhadap keegiatan yang berhubungan dengan pariwisata.
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa aspek kesiapan sosial masyarakat masih perlu ditingkatkan. Hingga saat ini, belum terdapat pembinaan atau pelatihan yang terstruktur terkait pelayanan wisata (hospitality). Koordinasi antar pelaku usaha maupun antara pengelola wisata dan pemerintah desa juga masih lemah. Kondisi ini berpotensi menghambat optimalisasi manfaat pariwisata di masa depan.
Menariknya, terdapat strategi pengelolaan yang secara tidak langsung mendukung ekonomi masyarakat lokal. Pengelola kawasan wisata tidak menyediakan fasilitas makan di area puncak, sehingga wisatawan diarahkan untuk turun ke desa dan berbelanja di usaha milik warga. Kebijakan ini terbukti mampu menjaga perputaran ekonomi tetap berada di tingkat lokal.
Namun, di balik dampak positif tersebut, terdapat pula tantangan seperti kemacetan saat kunjungan tinggi, peningkatan beban kerja bagi tenaga lokal, serta potensi ketimpangan ekonomi antarwarga. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu masalah sosial di kemudian hari.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan DTW Patung Yesus Sibea-bea telah memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, namun masih berada pada tahap awal dan belum optimal. Potensi besar yang dimiliki kawasan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dan sistem pengelolaan yang terintegrasi.
Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelatihan keterampilan, serta penguatan koordinasi antara pemerintah, pengelola, dan masyarakat. Pendekatan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) menjadi kunci penting agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata dan berkelanjutan.
Jika dikelola dengan tepat, Sibea-bea tidak hanya akan menjadi ikon wisata religi, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat lokal di Kabupaten Samosir.
Penulis : Drs.Hasoloan Marpaung, M.Hum, Politeknik Pariwisata MedanĀ
