
Fokusmedan.com : Danau Toba, warisan geopark dunia yang terletak di jantung Sumatera Utara, menyimpan potensi pariwisata internasional yang sangat besar. Di tepian danau vulkanik terbesar di dunia ini, Desa Tigarihit di Kabupaten Simalungun berkembang menjadi salah satu destinasi wisata berbasis komunitas yang semakin diminati wisatawan mancanegara.
Dengan latar belakang perbukitan hijau, pertanian organik, serta tradisi Batak yang masih terjaga keasliannya, desa ini menawarkan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di destinasi wisata komersial. Namun muncul pertanyaan penting: apakah pengelolaan homestay di desa ini sudah memenuhi standar pariwisata berkelanjutan yang diakui secara internasional?
Pertanyaan tersebut dijawab melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Hamdani, dosen Politeknik Pariwisata Medan. Penelitian berjudul “Hubungan Antara Penerapan Kriteria Global Sustainable Tourism Council (GSTC) dan Kepuasan Wisatawan Mancanegara di Homestay Desa Tigarihit” ini menjadi salah satu studi yang secara khusus mengkaji keterkaitan antara standar keberlanjutan internasional dengan kepuasan wisatawan asing di homestay pedesaan Indonesia.
Penelitian ini didanai melalui DIPA Politeknik Pariwisata Medan Tahun 2026 dan telah mendapat pengakuan adopsi dari Pemerintah Kabupaten Simalungun.
Global Sustainable Tourism Council (GSTC) merupakan organisasi internasional yang menetapkan standar minimum pariwisata berkelanjutan yang diakui oleh berbagai lembaga dunia seperti UNWTO, Rainforest Alliance, dan UNEP. Standar GSTC mencakup empat pilar utama, yakni manajemen berkelanjutan, dampak sosial-ekonomi, dampak budaya, serta dampak lingkungan.
Keempat pilar tersebut dirancang untuk memastikan bahwa aktivitas pariwisata tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat lokal, melestarikan warisan budaya, serta menjaga kelestarian lingkungan.
Di tengah meningkatnya kesadaran wisatawan global terhadap isu keberlanjutan, penerapan standar GSTC menjadi semakin penting untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 120 wisatawan mancanegara sebagai responden.
Para responden dipilih secara purposive dari berbagai negara, dengan mayoritas berasal dari Eropa (35 persen), Australia dan Selandia Baru (22,5 persen), serta Amerika Utara (18,3 persen).
Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert lima poin yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Selain itu, penelitian juga dilengkapi dengan observasi langsung dan wawancara semi-terstruktur.
Seluruh data dianalisis menggunakan metode korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 26.
Dari sisi demografi, kelompok usia dominan responden berada pada rentang 26–35 tahun (34,2 persen). Hal ini mencerminkan segmen wisatawan milenial yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap nilai-nilai keberlanjutan dalam perjalanan wisata mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan penerapan kriteria GSTC pada homestay di Desa Tigarihit berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 3,81 dari skala 5.
Di antara empat dimensi yang diukur, dimensi dampak budaya memperoleh skor tertinggi dengan nilai rata-rata 4,01. Capaian ini menunjukkan keberhasilan pengelola homestay dalam melestarikan dan menampilkan kekayaan budaya Batak, mulai dari tari Tor-Tor, pembuatan ulos, ritual adat, hingga kuliner tradisional sebagai bagian dari pengalaman menginap wisatawan.
Sebaliknya, dimensi dampak lingkungan mencatat skor terendah dengan rata-rata 3,68. Hal ini menunjukkan bahwa praktik konservasi energi, pengelolaan air, serta pengurangan limbah masih memerlukan perhatian dan peningkatan yang lebih serius.
Tingkat kepuasan wisatawan mancanegara dalam penelitian ini juga tergolong tinggi, dengan nilai rata-rata 3,91. Dua aspek yang paling diapresiasi wisatawan adalah keramahan tuan rumah Batak serta keaslian pengalaman budaya yang mereka rasakan selama menginap.
Banyak wisatawan dari Eropa dan Australia mengaku sangat menikmati kesempatan untuk berpartisipasi langsung dalam aktivitas keseharian masyarakat, seperti menyantap hidangan tradisional, menyaksikan pertunjukan seni lokal, hingga belajar menenun ulos.
Pengalaman yang bersifat imersif ini menjadi nilai tambah yang tidak dapat ditawarkan oleh hotel konvensional berskala besar, sekaligus menjadi keunggulan utama homestay Desa Tigarihit di pasar wisata global.
Temuan paling penting dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang positif, kuat, dan signifikan antara penerapan kriteria GSTC dengan tingkat kepuasan wisatawan mancanegara (r = 0,718; p = 0,000).
Artinya, semakin tinggi komitmen pengelola homestay dalam menerapkan praktik pariwisata berkelanjutan sesuai standar GSTC, maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan wisatawan yang menginap.
Seluruh hipotesis penelitian diterima, yang menunjukkan bahwa keempat pilar GSTC, baik secara parsial maupun keseluruhan, memiliki hubungan positif dengan kepuasan wisatawan. Temuan ini menjadi bukti empiris bahwa investasi dalam praktik keberlanjutan bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga strategi bisnis yang efektif dalam meningkatkan kualitas pengalaman wisata.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa dimensi dampak budaya memiliki korelasi paling kuat terhadap kepuasan wisatawan (r = 0,672), diikuti manajemen berkelanjutan (r = 0,614), dampak lingkungan (r = 0,601), dan dampak sosial-ekonomi (r = 0,587).
Temuan ini menunjukkan bahwa bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan Danau Toba, autentisitas budaya menjadi faktor utama yang menentukan kepuasan mereka. Wisatawan internasional tidak hanya mencari kenyamanan fisik, tetapi juga pengalaman yang bermakna dan berakar pada nilai-nilai lokal.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa langkah strategis direkomendasikan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan homestay. Pengelola homestay disarankan memperkuat aspek lingkungan melalui praktik sederhana seperti pemilahan sampah, pengomposan limbah organik, serta efisiensi penggunaan energi dan air.
Di sisi lain, kekuatan budaya yang sudah dimiliki perlu terus dikembangkan melalui paket pengalaman wisata yang lebih terstruktur dan kolaborasi dengan seniman serta pengrajin lokal.
Bagi Pemerintah Kabupaten Simalungun, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan, termasuk penyediaan program pelatihan standar GSTC bagi pengelola homestay, fasilitasi sertifikasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung seperti sistem pengelolaan sampah komunal.
Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
Bagi masyarakat Desa Tigarihit, identitas budaya dan kearifan lokal Batak yang selama ini dijaga dengan penuh kebanggaan ternyata juga merupakan aset ekonomi bernilai tinggi di mata wisatawan internasional.
Dengan memperkuat sinergi antara pelestarian budaya, kepedulian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi lokal sesuai standar GSTC, Desa Tigarihit memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi model wisata pedesaan berkelanjutan kelas dunia.
Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat, komitmen terhadap keberlanjutan bukan hanya menjaga alam dan budaya, tetapi juga menjadi investasi penting bagi masa depan pariwisata Danau Toba.
Penulis : Dr. Muhammad Hamdani, S.Sos., M.Si, Politeknik Pariwisata Medan
