Harga Minyak Mendekati USD100 per Barel, IHSG dan Rupiah Tertekan

Ilustrasi kinerja IHSG.

Fokusmedan.com : Harga minyak mentah dunia kembali menguat di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda. Meski pasokan cadangan minyak dilepas ke pasar, tekanan terhadap harga komoditas energi tersebut masih cukup kuat.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan stok minyak mentah global mendapat tambahan pasokan setelah Badan Energi Internasional (IEA) melepas sekitar 400 juta barel minyak. Selain itu, Amerika Serikat juga mengeluarkan sekitar 175 juta barel dari cadangan strategisnya.

“Langkah ini dilakukan di tengah belum meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat,” ujar Gunawan.

Pada perdagangan pagi ini, harga minyak mentah dunia tetap menguat. Minyak mentah jenis Brent ditransaksikan di kisaran USD98 per barel, bahkan sempat mendekati level USD100 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut turut menekan kinerja bursa saham di kawasan Asia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat pada sesi pembukaan di level 7.398, namun kemudian berbalik melemah dan kembali diperdagangkan di zona merah mengikuti koreksi mayoritas bursa regional.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan dan diperdagangkan di kisaran Rp16.880 per dolar AS.

Sementara itu, harga emas dunia justru terkoreksi ke level sekitar USD5.175 per ons troy. Di pasar domestik, harga emas relatif stabil di kisaran Rp2,82 juta per gram.

Menurut Gunawan, lonjakan harga emas sebelumnya memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi direspons bank sentral dengan kebijakan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi.

“Proyeksi ini berpeluang menahan kenaikan harga emas di kisaran level USD5.100-an per ons troy,” katanya.

Meski demikian, emas masih didukung fundamental yang kuat dan tetap memiliki potensi untuk menguat dalam jangka menengah. Dampak kenaikan harga bahan bakar yang menahan laju penguatan emas juga diperkirakan tidak akan berlangsung lama.

Terlebih, sejumlah bank sentral di berbagai negara masih terus melakukan akumulasi emas di tengah meningkatnya konflik geopolitik global, meskipun jumlah pembelian tahun ini diperkirakan tidak sebesar tahun sebelumnya. (ram)