
Fokusmedan.com : Ekowisata semakin menjadi pendekatan penting dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Konsep ini tidak hanya menekankan keindahan alam sebagai daya tarik utama, tetapi juga keterlibatan masyarakat lokal serta upaya menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu contoh destinasi yang berkembang melalui pendekatan ini adalah kawasan Tangkahan yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Provinsi Sumatera Utara.
Tangkahan dikenal sebagai destinasi ekowisata yang memadukan hutan tropis, sungai yang jernih, serta berbagai aktivitas wisata berbasis konservasi seperti trekking hutan, tubing sungai, dan interaksi dengan gajah di kawasan konservasi. Keberhasilan Tangkahan sebagai destinasi ekowisata tidak hanya ditentukan oleh daya tarik alamnya, tetapi juga oleh kualitas layanan wisata yang diterima pengunjung.
Dalam konteks ini, keberadaan pelayanan tambahan (ancillary services) di desa-desa sekitar menjadi faktor penting yang sering kali luput dari perhatian. Salah satu desa yang berperan mendukung aktivitas wisata di Tangkahan adalah Desa Sei Serdang. Desa ini menjadi salah satu wilayah penyangga destinasi yang menyediakan berbagai pelayanan tambahan bagi wisatawan.
Pelayanan tambahan tersebut tidak selalu berupa atraksi wisata utama, tetapi berupa fasilitas dan layanan pendukung yang membuat pengalaman wisata menjadi lebih nyaman, aman, dan berkesan. Dalam konsep pengembangan destinasi pariwisata dikenal komponen 5A, yaitu attraction (daya tarik), accessibility (aksesibilitas), amenities (fasilitas), ancillary services (pelayanan tambahan), dan aktivitas wisata. Pelayanan tambahan memiliki peran strategis karena menjadi elemen pendukung yang membantu wisatawan memenuhi berbagai kebutuhan selama berada di destinasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Sei Serdang telah berperan aktif menyediakan berbagai pelayanan tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Tangkahan. Bentuk layanan tersebut antara lain penyediaan homestay, warung makan lokal, jasa pemandu wisata, penyewaan transportasi lokal, hingga penyediaan produk kerajinan dan oleh-oleh khas daerah. Kehadiran layanan ini tidak hanya memudahkan wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Homestay yang dikelola masyarakat, misalnya, memberikan pengalaman menginap yang lebih autentik bagi wisatawan. Pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Interaksi tersebut menjadi nilai tambah dalam pengalaman ekowisata karena wisatawan dapat mengenal budaya lokal sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.
Selain itu, warung makan yang menyajikan kuliner khas daerah juga menjadi bagian penting dari pelayanan tambahan. Kuliner lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga menjadi media promosi budaya. Melalui makanan, wisatawan dapat mengenal kekayaan tradisi kuliner masyarakat sekitar Tangkahan.
Pelayanan tambahan lainnya yang tidak kalah penting adalah jasa pemandu wisata lokal. Pemandu wisata berperan sebagai penghubung antara wisatawan dengan lingkungan alam yang dikunjungi. Mereka tidak hanya menunjukkan jalur trekking atau lokasi menarik, tetapi juga menjelaskan nilai konservasi hutan, keanekaragaman hayati, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian, kegiatan wisata tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif.
Peran masyarakat Desa Sei Serdang dalam menyediakan pelayanan tambahan menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata tidak dapat dilepaskan dari partisipasi masyarakat lokal. Ekowisata pada dasarnya bertujuan menciptakan keseimbangan antara konservasi lingkungan, manfaat ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas wisata, mereka akan memiliki motivasi yang lebih kuat untuk menjaga kelestarian lingkungan di sekitarnya.
Namun demikian, pengembangan pelayanan tambahan di Desa Sei Serdang masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola layanan wisata secara profesional. Selain itu, promosi terhadap layanan yang tersedia di desa juga masih terbatas sehingga belum sepenuhnya dikenal oleh wisatawan.
Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta pengelola destinasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan tambahan di desa tersebut. Program pelatihan bagi masyarakat, penguatan kelembagaan kelompok wisata, serta pemanfaatan media digital untuk promosi dapat menjadi langkah strategis dalam meningkatkan daya saing desa sebagai penyangga destinasi ekowisata.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan ekowisata di Tangkahan tidak hanya bergantung pada keindahan alam yang dimiliki, tetapi juga pada kualitas pengalaman yang dirasakan wisatawan. Dalam hal ini, pelayanan tambahan yang disediakan oleh masyarakat Desa Sei Serdang menjadi elemen penting yang memperkaya pengalaman wisata sekaligus memperkuat keberlanjutan destinasi.
Dengan pengelolaan yang baik, pelayanan tambahan tidak hanya menjadi pelengkap dalam sistem pariwisata, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Jika terus dikembangkan secara berkelanjutan, Desa Sei Serdang berpotensi menjadi contoh bagaimana masyarakat desa dapat berperan aktif dalam mendukung dan memperkuat pengembangan destinasi ekowisata berkelanjutan di kawasan Tangkahan.
Penulis : Dosen Prodi Destinasi Pariwisata, Poltekpar Medan, Ikhlas Ramadhan, M.Sc.
