
Fokusmedan.com : Kinerja pasar modal di Sumatera Utara (Sumut) melesat tajam di awal tahun 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Sumut mencatat nilai transaksi saham mencapai Rp25,98 triliun per Januari 2026.
Kepala BEI Sumut, M. Pintor Nasution mengungkapkan, angka tersebut melonjak 159,6 persen secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp10 triliun.
“Ini menunjukkan aktivitas transaksi yang sangat kuat dalam satu tahun terakhir. Tahun 2025 bisa dibilang lebih banyak yang untung dibandingkan yang rugi,” ujar Pintor dalam acara Buka Puasa Bersama dan Media Gathering BEI di Medan, Rabu (4/3/2026).
Gen Z Dominasi Jumlah Investor
BEI Sumut mencatat perubahan signifikan pada struktur demografi investor. Saat ini, sebanyak 30 persen investor di Sumut berasal dari kalangan Generasi Z atau usia di bawah 30 tahun.
Menurut Pintor, tingginya partisipasi anak muda didorong kemudahan akses informasi melalui media sosial serta masuknya kurikulum industri keuangan di tingkat SMA dan SMK.
“Generasi muda mulai sadar investasi. Selain konsumtif, mereka sudah memikirkan masa depan. Menariknya, investor lokal kini lebih dominan dibandingkan investor asing. Kita tidak lagi selalu mengekor bursa luar negeri,” jelasnya.
Meski demikian, dari sisi nilai aset, investor berusia 40 tahun ke atas masih mendominasi karena memiliki kapasitas finansial yang lebih mapan.
Dari sisi sebaran wilayah, investor pasar modal di Sumut masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan. Kota Medan menjadi basis terbesar dengan kontribusi 41 persen, disusul Deli Serdang, Simalungun, Pematang Siantar, dan Langkat.
Hingga Januari 2026, total investor pasar modal di Sumut mencakup saham, obligasi, dan reksadana mencapai 1,4 juta Single Investor Identification (SID). Khusus investor saham tercatat sebanyak 401.723 SID.
Sumut juga tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan pasar modal tertinggi di luar Pulau Jawa.
Meski pertumbuhan tinggi, katanya, BEI Sumut mengakui masih terdapat ketimpangan sebaran investor. Karena itu, pemerataan literasi keuangan menjadi fokus utama pada 2026, termasuk menjangkau wilayah seperti Nias dan Mandailing Natal.
“Kami ingin manfaat pasar modal tidak hanya dinikmati masyarakat Medan, tetapi juga saudara-saudara kita di Nias atau Sidimpuan,” kata Pintor.
Untuk memperluas akses, BEI Sumut akan melanjutkan kolaborasi dengan OJK melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) serta menambah Galeri Investasi yang saat ini telah berjumlah 26 titik.
Di sisi penambahan emiten, BEI Sumut menargetkan 24 kegiatan sosialisasi sepanjang 2026. Selain itu, pada Mei mendatang akan digelar coaching clinic bagi calon perusahaan yang berpotensi melantai di bursa.
“Pusat meminta kami menyiapkan 12 perusahaan untuk coaching clinic IPO. Kami akan membina perusahaan berpotensi, meski dimulai dari skala kecil,” ujarnya.
Pintor berharap tren positif ini tidak hanya menjadi euforia sesaat, melainkan membentuk budaya perencanaan keuangan di tengah masyarakat.
“Kami ingin pasar modal menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga. Literasi finansial harus menjadi budaya, bukan sekadar ikut-ikutan tren investasi,” pungkasnya. (ng)
