Minim Sentimen Ekonomi, Pasar Keuangan Fokus Perang Timur Tengah dan Rencana Tarif Impor AS

Ilustrasi dua orang sedang berbincang tentang kinerja IHSG.

Fokusmedan.com :  Pergerakan pasar keuangan pada perdagangan hari ini diperkirakan masih dipengaruhi oleh sentimen global, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah dan rencana kebijakan tarif impor Amerika Serikat.

Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, mengatakan tidak ada agenda ekonomi besar yang secara langsung mempengaruhi kinerja pasar pada hari ini. Karena itu, pelaku pasar lebih banyak mencermati dinamika geopolitik serta kebijakan perdagangan AS.

“Sentimen pasar saat ini datang dari kemungkinan penerapan tarif impor oleh Amerika Serikat sebesar 15 persen pada pekan ini. Kebijakan tarif tersebut menjadi salah satu isu besar bagi pasar keuangan global,” ujarnya.

Menurutnya, di tengah minimnya sentimen ekonomi, investor juga masih memantau perkembangan konflik antara Iran dan United States yang berpotensi memengaruhi arah pasar.

Dari sisi pasar saham, bursa di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini mayoritas bergerak di zona hijau. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan juga mengalami penguatan teknikal di level 7.695 dan berpeluang mengikuti tren penguatan bursa regional.

Sementara itu, jika dilihat dari indikator global, pergerakan US Dollar Index terpantau melemah di kisaran level 98,78. Sebaliknya, imbal hasil US Treasury 10-Year Yield justru mengalami kenaikan ke level sekitar 4,096 persen.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terlihat menguat terhadap dolar AS di kisaran Rp16.865 per dolar AS. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp16.830 hingga Rp16.890 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Di sisi lain, harga emas dunia tercatat relatif stabil di kisaran 5.165 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,8 juta per gram. Stabilnya harga emas dipengaruhi oleh konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

“Perang antara Iran dan Israel yang telah berlangsung sekitar enam hari membuat harga emas cenderung stabil. Namun tren kenaikan emas masih tertahan oleh ekspektasi inflasi yang berpotensi membuat Bank Sentral AS menunda pemangkasan suku bunga acuan,” jelas Gunawan. (ram)