
Fokusmedan.com : Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menyebut rilis data inflasi Amerika Serikat kembali mengalami penundaan seiring belum berakhirnya penutupan pemerintahan AS. Government shutdown itu baru diselesaikan pada Kamis malam waktu AS. Penundaan tersebut membuat data inflasi yang menjadi rilis paling dinantikan pelaku pasar menambah ketidakpastian, di tengah spekulasi terpecah apakah The Fed akan memangkas atau mempertahankan suku bunga acuannya.
“Dengan ditundanya data inflasi AS, pasar menghadapi ketidakpastian jangka pendek yang kian tinggi,” kata Gunawan Benjamin.
Ia menjelaskan, tanpa kehadiran data ekonomi penting, pelaku pasar cenderung mengandalkan sentimen teknikal. Kondisi ini membuat pasar lebih dibanjiri spekulasi ketimbang argumen yang mencerminkan fundamental ekonomi AS. Penundaan sejumlah data penting menjelang akhir pekan juga ikut memicu tekanan jual di bursa saham AS, yang berpeluang meluas ke pasar keuangan Asia.
Pada sesi perdagangan pagi, bursa saham Asia melemah, meskipun belum menekan IHSG pada pembukaan. IHSG dibuka menguat di level 8.378, namun diproyeksikan bergerak ke zona merah pada penutupan perdagangan. Sementara itu, nilai tukar Rupiah tercatat menguat ke level 16.710 per dolar AS, ditopang perbaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun, meskipun indeks dolar berada dalam tekanan di kisaran 99,18.
Terpisah, harga emas dunia ditransaksikan sedikit melemah ke posisi US$4.203 per troy ons atau sekitar Rp2,27 juta per gram. Menurut Gunawan Benjamin, pelaku pasar kini menanti sejumlah rilis data ekonomi AS yang akan menjadi penentu ekspektasi arah kebijakan moneter The Fed pada akhir Desember.
“IHSG dan harga emas berpotensi bergerak sangat volatil sampai ada kepastian mengenai kebijakan moneter AS,” ujarnya. (ram)
