3.983 Kepala Keluarga Terdampak, Warga Sei Rampah Akui Banjir Tak Separah Tahun Lalu

Banjir di Sei Rampah akibatkan 3.983 Kepala Keluarga terdampak. Ist

Fokusmedan.com : Data terakhir dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), jumlah warga terdampak banjir di Serdang Bedagai sekitar 3.983 Kepala Keluarga atau sekitar 15 ribu jiwa. Dan Kecamatan Sei Rampah menjadi yang terparah yakni sekitar 2.734 Kepala Keluarga.

Selain itu 10 tenda/posko pengungsian sudah terpasang diantaranya di Kecamatan Sei Rampah 6 unit, Kecamatan Dolok Masihul 3 unit dan Tebing Tinggi satu unit. Beberapa perahu karet juga sudah disiapkan di sejumlah titik yang rawan.

Warga Dusun III Desa Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah Tata Herlisa mengaku, banjir yang melanda rumahnya sejak beberapa hari ini tidak separah tahun lalu. Banjir melanda rumahnya sejak beberapa hari lalu.

“Sejak beberapa hari lalu sudah banjir, namun cepat surut. Kalo gak salah udah 3 kalilah banjir datang lalu surut begini,” ungkapnya di tenda pengungsian di bibir sungai Belutu, Jumat (18/11/2022).

Ia pun menilai normalisasi sungai yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai bersama forum CSR sudah terlaksana namun diakuinya belum memuaskan.

“Ada, normalisasi udah dibuat, adalah perubahannya tapi belum maksimal karna belum bisa atasi banjir, “ucapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Serdang Bedagai Adlin Tambunan kemarin, Kamis (17/11/2022) terlihat mengunjungi sejumlah tenda pengungsian di Kecamatan Sei Rampah dan Sei Bamban. Ia mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan yang terbaik dalam menangani musibah banjir di Tanah Bertuah Negeri Beradat. Normalisasi sungai juga sudah dilakukan baik tahap pertama dan kini di tahap kedua tengah kita lakukan.

“Alhamdulillah, pada tahap pertama normalisasi sungai bersama forum CSR Serdang Bedagai sudah dilakukan normalisasi sungai disepanjang 7 kilometer. Dan di tahap kedua kita teruskan kembali di 8 kilometer selanjutnya. Insha Allah target 15 kilometer akan selesai sehingga dampak banjir bisa kita kurangi kan sedimen sungai juga berkurang,” ungkapnya.

Ketua PW GP Ansor Sumut ini juga mengaku jika dampak banjir ini tidak separah tahun sebelumnya. Normalisasi sungai Belutu yang dilakukan membuat air cepat surut karena sedimen sudah berkurang.

“Jika dilihat dampak banjir di tahun ini sudah berkurang, tidak separah tahun sebelumnya. Air pun cepat surut karena sedimen sungai sudah kita kurangi melalui normalisasi sungai. Lebih cepatlah air surut,” pungkasnya. (ng)