Bank Indonesia Buka Ruang Normalisasi Kebijakan Moneter, Suku Bunga Acuan Bakal Naik?

Fokusmedan.com : Bank Indonesia (BI) menunggu arahan dari pemerintah untuk segera melakukan normalisasi kebijakan moneter. Itu berarti pihak bank sentral juga berpotensi melakukan perubahan suku bunga acuan yang telah tertahan di level 3,5 persen selama 14 bulan berturut-turut.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2022 sebesar 5,01 persen year on year telah memberikan harapan lebih baik lagi dibanding tahun sebelumnya. Namun demikian, negara masih akan menghadapi tiga tantangan utama.

“Pertama, normalisasi kebijakan moneter di negara maju. Kedua, masih terdapatnya dampak dari pandemi di sektor riil. Dan yang ketiga, berlanjutnya ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina,” ungkapnya dalam acara peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 38, Jumat (13/5).

Secara global, Destry melihat tekanan inflasi yang terus menguat. “Sehingga ini harus diimbangi dengan normalisasi yang agresif yang dilakukan bank sentral dengan meningkatkan suku bunga kebijakannya. Tentunya juga dengan mengurangi likuiditas sistem keuangan,” imbuhnya.

Ketidakpastian

Namun, dia menilai, kebijakan itu pastinya memberikan ketidakpastian lebih lanjut, dengan semakin terbatasnya aliran modal ke emerging market, termasuk juga ke Indonesia.

Meskipun demikian, Destry bersyukur karena dari sisi domestik di triwulan I-2022 pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai 5,01 persen secara tahunan.

“Ini tentunya memberikan harapan adanya perbaikan ekonomi, dan kita masih bisa sangat optimis bahwa perekonomian kita pada 2022 ini dapat tumbuh di range 4,5-5,3 persen,” ujar dia.

Kendati begitu, pemerintah pun perlu mencermati beberapa hal yang masih dirasakan hingga saat ini. Di antaranya, efek memar atau scarring effect sebagai dampak akibat pandemi yang berkepanjangan sejak tahun 2020.

“Oleh karena itu, normalisasi kebijakan yang terlalu prematur akan sangat berisiko untuk pemulihan ekonomi. Namun, apabila terlalu lambat juga akan berdampak pada akselerasi risiko yang lebih cepat,” sebut dia.

“Kebijakan moneter akan lebih diutamakan untuk pro stability untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Melalui bauran kebijakan tersebut, secara terukur Bank Indonesia akan mengambil kebijakan normalisasi yang diharapkan tidak mengakibatkan tertahannya pemulihan ekonomi,” tandasnya.(yaya)