Dorong Transaksi Uang Lokal, BI Implementasikan LCS

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Bayront Yudit Rumondor. Ist

Fokusmedan.com : Bank Indonesia menunjukkan komitmennya dalam mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi atau local currency settlement (LCS) dengan negara mitra.

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Bayront Yudit Rumondor mengatakan, dengan LCS, biaya konversi transaksi menjadi lebih efisien. Sebab tidak perlu lagi ditukarkan ke dollar AS terlebih dahulu.

“Fleksibilitas transaksi bagi pengusaha dengan adanya threshold transaksi yang lebih longgar dibandingkan transaksi USD/IDR. Selain itu, nasabah dapat membuka rekening mata uang lokal mitra di Indonesia dan memperoleh financing dalam mata uang lokal mitra di Indonesia untuk kebutuhan setelmen ke negara mitra. Selain itu juga adanya potensi memperoleh insentif kepabeanan dari Kemenkeu,” ujarnya.

Keuntungan lain LCS dalam efisiensi biaya transaksi via direct quotation adalah kuotasi harga LCS pcenderung sama dan lebih efisien
dibandingkan harga cross-rate dan transaksi dapat dilakukan secara online menggunakan sistem yang disediakan Bank (systematic internaliser).

Selain itu, tujuan kebijakan LCS ini juga untuk meminimalisir ketergantungan terhadap mata uang dunia,  misalnya USD.

“Skala ekonomi dan volume perdagangan Indonesia dengan negara di Asia terus mengalami peningkatan, khususnya dengan Tiongkok dan Jepang. Tren perdagangan
Indonesia dengan Tiongkok ($60 milar per tahun), dan Jepang ($30 miliar per tahun), dan terus mengalami peningkatan. Namun dominasi dollar AS untuk pembayaran masih tinggi tercermin dari penggunaan dollar AS masih diatas 80% untuk pembayaran transaksi bilateral Indonesia dengan negara mitra. Padahal perdagangan Indonesia-AS hanya $25 miliar per tahun (15% dari total perdagangan),” katanya.

Saat ini, lanjutnya transaksi valas di Indonesia juga lebih dari 75% masih didominasi oleh mata uang USD,  mencerminkan eksposur pelaku pasar terhadap USD masih sangat tinggi. Hal ini menyebabkan Rupiah sangat rentan terhadap pergerakan USD.

“Maka memang diperlukan upaya untuk mendiversifikasi eksposur mata uang pelaku pasar untuk mitigasi risiko pasar. LCS ini akan membantu pengembangan dan Pendalaman pasar mata uang non-USD,” ujarnya.

BI, tambahnya, sudah menjalin kerja sama LCS dengan negara Jepang, Malaysia, Thailand, dan China dan saat ini masih terus dilakukan usaha kerja sama dengan negara lainnya yang memiliki potensi besar.(ng)