Destinasi Wisata Aceh Tamiang Lumpuh Total Pasca-Banjir, Pemkab Targetkan Pemulihan 2026

Fokusmedan.com : Destinasi wisata alam di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, masih lumpuh total dua bulan pasca-bencana banjir bandang. Kondisi ini menyebabkan tidak ada pengunjung sama sekali di berbagai objek wisata populer. Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) mencatat penurunan drastis jumlah wisatawan.

Sebelum bencana melanda, Destinasi Wisata Aceh Tamiang mampu menarik hingga 1.000 pengunjung setiap pekan di satu lokasi objek wisata. Total wisatawan lokal dan luar daerah yang masuk Aceh Tamiang mencapai 70 ribu orang per tahun. Namun kini, angka kunjungan tercatat nol, mengindikasikan dampak parah dari bencana alam tersebut.

Kerusakan infrastruktur dan akses jalan menjadi penyebab utama terhentinya aktivitas pariwisata di wilayah tersebut. Lumpur dan kayu masih menutupi jalur menuju objek wisata, membuat perjalanan tidak memungkinkan. Kondisi ini menghambat upaya pemulihan dan berdampak signifikan pada perekonomian lokal yang bergantung pada sektor pariwisata.

Dampak Kerusakan pada Objek Wisata Andalan

Kabid Pariwisata dan Ekonomi Disparpora Aceh Tamiang, Thamrindu Lubis, menjelaskan bahwa objek wisata seperti pemandian sungai Gunung Pandan Tenggulun, Pantai Pulau Rukui, dan pemandian air panas Desa Kaloy mengalami kerusakan parah. Sebelumnya, Gunung Pandan bisa menarik hingga 600 wisatawan per minggu, sementara Pantai Pulau Rukui mencapai 800 pengunjung per pekan. Ketiga lokasi ini merupakan primadona di antara 14 destinasi wisata alam yang ada.

Setelah banjir dan tanah longsor, fasilitas umum di destinasi-destinasi tersebut porak-poranda. Homestay, pondok santai, gazebo, dan MCK mengalami kerusakan berat, bahkan hancur. Kerusakan sarana dan prasarana umum yang dibangun pemerintah diperkirakan mencapai 50-60 persen dari total keseluruhan. Hal ini tentu menjadi tantangan besar dalam upaya revitalisasi.

Kondisi objek wisata Gunung Pandan, meskipun berada di daerah tinggi, juga terdampak longsor. Thamrindu Lubis menambahkan bahwa jalan dan lintasan menuju destinasi tersebut belum bisa dilewati. Batang-batang kayu yang terbawa air bah juga memenuhi objek wisata air terjun, menambah daftar kerusakan yang harus ditangani. Pemulihan memerlukan waktu yang tidak sebentar.

Upaya Pemulihan dan Target Operasional Kembali

Meskipun menghadapi tantangan besar, Disparpora Aceh Tamiang telah memulai langkah-langkah pemulihan. Pihaknya menargetkan salah satu objek wisata primadona di wilayah hulu, Gunung Pandan Tenggulun, dapat beroperasi kembali setelah Lebaran 2026. Target ini diharapkan mampu menarik minat pengunjung dan menghidupkan kembali sektor pariwisata. Pemulihan ini menjadi prioritas utama demi mengembalikan geliat ekonomi daerah.

Untuk mempercepat proses pemulihan, Disparpora telah memanggil semua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dari desa masing-masing. Pertemuan ini bertujuan untuk mendata kerusakan secara rinci dan mengidentifikasi kebutuhan alat yang diperlukan untuk perbaikan. Dengan data yang akurat, pemerintah daerah dapat memfasilitasi bantuan yang tepat sasaran.

Thamrindu Lubis menegaskan komitmen pihaknya untuk segera memfasilitasi kebutuhan alat tersebut. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat lokal, khususnya Pokdarwis, menjadi kunci keberhasilan dalam upaya rekonstruksi. Diharapkan, dengan sinergi ini, Destinasi Wisata Aceh Tamiang dapat bangkit kembali dan kembali menjadi daya tarik bagi wisatawan.(yaya)