
Fokusmedan.com : Militer Pakistan menginformasikan bahwa mereka telah berhasil menewaskan setidaknya 92 militan yang diduga terlibat dalam serangkaian serangan terkoordinasi di Provinsi Balochistan, yang terletak di barat daya Pakistan, pada hari Sabtu (31/1).
Dalam insiden tersebut, sedikitnya 15 anggota personel keamanan dan 18 warga sipil juga kehilangan nyawa, menjadikannya salah satu hari paling berdarah di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir, seperti yang dilaporkan oleh BBC pada Minggu (1/2).
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan, militer Pakistan menuduh bahwa India memberikan dukungan kepada kelompok militan yang terlibat dalam serangan itu. Namun, pemerintah India secara konsisten membantah semua tuduhan tersebut.
Sebelumnya, kelompok separatis yang dikenal dengan nama Tentara Pembebasan Balochistan (Balochistan Liberation Army/BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini dan mengaku telah menewaskan puluhan tentara Pakistan. Namun, klaim dari kedua belah pihak belum dapat diverifikasi secara independen.
Militer Pakistan menyatakan bahwa para militan melancarkan serangan yang ditujukan kepada warga sipil serta fasilitas keamanan di sekitar ibu kota provinsi, Quetta, dan beberapa kota lainnya. Sebagai respons terhadap serangan tersebut, pasukan keamanan melaksanakan operasi “pembersihan” di berbagai wilayah Balochistan dan, menurut pernyataan militer, berhasil menggagalkan rencana lanjutan dari kelompok pemberontak.
Di sepanjang hari Sabtu, sejumlah gedung pemerintahan penting di Quetta beserta jalan-jalan utama di sekitarnya ditutup untuk umum. Layanan telepon seluler dilaporkan mengalami gangguan, sementara layanan kereta api regional dihentikan sementara sebagai langkah pengamanan. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, memberikan pujian terhadap tindakan militer dan menyatakan bahwa pemerintah akan “melanjutkan perang melawan terorisme hingga benar-benar diberantas”.
Serangan menggunakan granat dan senjata api
Pada hari yang sama, kelompok bersenjata melakukan serangan menggunakan granat dan senjata api di lebih dari 12 kota dan desa di provinsi tersebut. Sasaran serangan mereka meliputi instalasi kepolisian, paramiliter, penjara, dan gedung pemerintah. BLA menuduh bahwa pemerintah federal telah mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam Balochistan—provinsi terbesar di Pakistan—tanpa memberikan keuntungan yang adil kepada penduduk setempat. Selain itu, aktivis lokal juga mengungkapkan bahwa pasukan keamanan melakukan penghilangan paksa terhadap warga Baloch, meskipun tuduhan ini dibantah keras oleh pemerintah Pakistan.
Pemberontakan yang terjadi di Balochistan telah berlangsung sejak tahun 1948, tak lama setelah Pakistan meraih kemerdekaan dari Inggris. Kelompok militan di wilayah ini menuntut otonomi yang lebih luas, bahkan hingga pembentukan negara merdeka bagi etnis Baloch. Balochistan berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan, yang kini dikuasai oleh Taliban, serta memiliki garis pantai yang panjang di sepanjang Laut Arab. Wilayah ini dinamakan berdasarkan suku Baloch yang telah mendiami kawasan tersebut selama berabad-abad dan hingga kini merupakan kelompok etnis terbesar, diikuti oleh suku Pashtun.
Walaupun mencakup sekitar 44 persen dari total wilayah daratan Pakistan, Balochistan hanya dihuni oleh sekitar 5 persen dari lebih dari 240 juta penduduk negara tersebut. Provinsi ini juga dikenal sebagai daerah yang paling kaya di Pakistan dalam hal sumber daya alam, termasuk gas dan berbagai mineral strategis. Keberadaan sumber daya yang melimpah ini seharusnya memberikan manfaat bagi penduduk lokal, namun kenyataannya sering kali sebaliknya. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketegangan antara pemerintah dan masyarakat Baloch yang merasa terpinggirkan.(yaya)
