
Fokusmedan.com : Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat maupun Israel dinilai berpotensi menekan kinerja ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyebutkan kondisi tersebut dapat memicu inflasi, terutama dari kenaikan harga kebutuhan masyarakat.
Menurut Gunawan, hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda deeskalasi konflik. Dampak awal sudah mulai terasa dari kenaikan harga bahan baku seperti plastik, meski belum sepenuhnya diteruskan ke harga produk di tingkat konsumen.
“Beberapa produk makanan dan minuman dalam kemasan plastik memang mulai naik, tetapi banyak produsen masih menahan kenaikan harga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tekanan justru mulai dirasakan di sektor produksi pangan. Kenaikan harga pupuk, plastik, pestisida, herbisida, BBM, serta LPG nonsubsidi turut mendorong naiknya biaya produksi yang ditanggung petani dan peternak.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan potensi kenaikan biaya logistik semakin memperbesar risiko kenaikan harga pangan, seperti beras, sayuran hortikultura, daging ayam, telur, hingga daging sapi.
Gunawan menambahkan, dampak konflik yang dimulai pada akhir Februari mulai terasa sejak pertengahan Maret, terutama terhadap pembentukan harga pokok produksi. Ia memprediksi kenaikan harga di tingkat konsumen berpotensi terjadi pada Mei hingga Juni.
“Kondisi ini juga bisa diperparah oleh gangguan El Nino yang berisiko menekan produksi atau bahkan memicu gagal panen,” katanya.
Meski demikian, ia menilai dampak tersebut bisa diminimalkan jika konflik global mereda. Pemerintah diharapkan segera melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi lonjakan harga dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Selain itu, pengawasan distribusi pangan perlu diperketat guna mencegah praktik spekulasi pasar.
“Saya meyakini spekulan sudah membaca situasi ini. Ada potensi penimbunan atau manipulasi pasar yang bisa membuat harga bergejolak lebih cepat,” pungkasnya. (ram)
