IHSG Dibuka Melemah, Rupiah Tertekan dan Sentimen Global Memburuk

Sejumlah orang sedang menatap layar IHSG.

Fokusmedan.com : Kinerja manufaktur Amerika Serikat (AS) menunjukkan perbaikan pada April 2026. Data S&P Global Manufacturing PMI tercatat naik menjadi 54,0 dari 52,3 pada bulan sebelumnya. Namun, penguatan tersebut belum mampu menjadi katalis positif bagi pasar saham, di mana indeks Dow Jones justru ditutup di zona merah.

Sejalan dengan itu, bursa saham Asia pada perdagangan hari ini juga terpantau melemah. Sentimen negatif global turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka turun ke level 7.378 pada awal sesi perdagangan.

Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, mengatakan tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik.

“Pelemahan IHSG dipicu oleh memburuknya situasi geopolitik global serta langkah Fitch Ratings yang menurunkan outlook peringkat kredit empat bank besar di Indonesia,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penekan pasar. Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Pada perdagangan pagi ini, rupiah kembali melemah di kisaran Rp17.285 per dolar AS.

Menurut Gunawan, tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (USD Index) yang naik ke level 98,8. Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun yang berada di kisaran 4,3 persen juga memperkuat daya tarik dolar AS terhadap mata uang lainnya.

“Penguatan dolar AS membuat rupiah dan mata uang emerging market lainnya tertekan,” jelasnya.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia turut membebani pasar keuangan. Harga minyak Brent tercatat naik ke level 107 dolar AS per barel. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pasar saham, tetapi juga menekan pasar komoditas.

Harga emas terpantau turun ke kisaran 4.700 dolar AS per ons troi, atau sekitar Rp2,62 juta per gram, mencerminkan tekanan yang terjadi di pasar global secara keseluruhan. (ram)