Minyak Tembus US$100 per Barel, IHSG dan Rupiah Tertekan

Seseorang sedang memantau pergerakan IHSG di laptop.

Fokusmedan.com : Kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus level US$100 per barel kembali menekan pasar keuangan global dan domestik.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menilai kondisi ini membuka ruang peningkatan inflasi sekaligus mengurangi peluang penurunan suku bunga acuan bank sentral.

Ia menjelaskan, minyak mentah jenis Brent saat ini diperdagangkan di kisaran US$103 per barel. Lonjakan harga tersebut dipicu ketegangan yang masih berlangsung di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.

“Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga minyak sekaligus menekan sentimen pasar,” ujar Gunawan, Kamis (23/4/2026).

Sejalan dengan itu, mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menguat ke level 7.564 pada pembukaan perdagangan, berbalik melemah seiring tekanan eksternal.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga terdepresiasi ke level Rp17.280 per dolar AS. Penguatan dolar tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang naik ke level 98,6, serta imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang meningkat ke kisaran 4,3%.

Gunawan menambahkan, minimnya rilis data ekonomi global membuat pergerakan pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, khususnya di Timur Tengah.

Sementara itu, harga emas dunia justru mengalami pelemahan dan diperdagangkan di level US$4.737 per ons troy atau sekitar Rp2,64 juta per gram. Tekanan pada emas terjadi seiring kenaikan harga minyak dan menguatnya dolar AS.

“Emas berpotensi masih mengalami tekanan terbatas di tengah ketidakpastian geopolitik, termasuk terkait peluang gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat,” pungkasnya. (ram)