
Fokusmedan.com : Kinerja pasar keuangan pada perdagangan hari ini diwarnai sentimen beragam dari global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik di Iran berpotensi segera berakhir. Sementara itu, Israel dan Lebanon dilaporkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari ke depan.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu kepastian kesepakatan konkret dari pihak-pihak terkait, sehingga ketidakpastian global tetap membayangi pergerakan pasar.
Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, mengatakan harga minyak mentah dunia justru mengalami kenaikan pada perdagangan pagi ini. Minyak mentah jenis Brent tercatat naik ke kisaran USD98,3 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD93 per barel.
“Kenaikan harga minyak ini justru memberikan tekanan pada mayoritas bursa saham di Asia yang bergerak melemah,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Di tengah tekanan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka menguat di level 7.645. Pergerakan ini dinilai anomali dibandingkan dengan mayoritas bursa saham regional.
Namun demikian, pelemahan bursa saham Asia berpotensi menekan IHSG, sehingga indeks diperkirakan rawan mengalami koreksi sepanjang sesi perdagangan.
Dari pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah kembali melemah dan ditransaksikan di level Rp17.170 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring peringatan dari lembaga pemeringkat S&P Global Ratings terkait risiko penurunan peringkat kredit Indonesia.
S&P menyoroti tekanan fiskal yang dihadapi Indonesia, terutama akibat beban bunga utang dan subsidi energi yang meningkat.
Sementara itu, harga emas dunia terpantau melemah ke level USD4.790 per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram. Penurunan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dan sikap wait and see pelaku pasar menjelang negosiasi lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat.
Gunawan menilai, meskipun harga emas tertekan, potensi penurunan diperkirakan terbatas selama sesi perdagangan berlangsung.
Secara keseluruhan, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih memanas berpotensi terus memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk pasar domestik. (ram)
