Harga Minyak Tembus 100 Dolar, IHSG dan Rupiah Tertekan Sentimen Geopolitik

Sejumlah orang sedang menatap layar IHSG.

Fokusmedan.com : Kenaikan harga minyak mentah dunia kembali memicu tekanan di pasar keuangan global. Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, menyebut harga minyak kini telah menembus level 100 dolar AS per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Pada perdagangan pagi ini, minyak jenis WTI tercatat menguat ke level 104,4 dolar AS per barel. Lonjakan tersebut dinilai berpotensi mendorong koreksi di pasar keuangan, seiring meningkatnya tekanan inflasi global.

Sejalan dengan itu, mayoritas bursa saham di Asia terpantau melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka turun ke level 7.410, dengan potensi menguji level support di kisaran 7.300.

“Pelemahan ini tidak terlepas dari sentimen eksternal, terutama kenaikan harga minyak dan meningkatnya tensi geopolitik,” ujar Gunawan.

Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah turut melemah ke level 17.135 per dolar AS. Tekanan terhadap Rupiah dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS yang berada di level 99, serta kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke level 4,35 persen.

Gunawan menilai, konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membebani pasar. Kekhawatiran perang berkepanjangan mendorong pelaku pasar bersikap lebih hati-hati.

Bahkan, rencana Amerika Serikat untuk memblokade Selat Hormuz berpotensi memperburuk kondisi dengan memicu lonjakan harga minyak, atau setidaknya menahan harga tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel.

Sementara itu, harga emas dunia tercatat melemah ke level 4.721 dolar AS per ons troy. Meski demikian, harga emas dalam negeri masih relatif tinggi akibat pelemahan Rupiah, berada di kisaran Rp2,61 juta per gram.

“Pasar juga dibayangi ekspektasi bahwa The Fed berpotensi menunda pemangkasan suku bunga, bahkan cenderung mengambil kebijakan yang lebih hawkish,” kata Gunawan. (ram)