
Fokusmedan.com : Kenaikan harga pupuk kembali terjadi seiring meningkatnya tensi konflik global, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat. Meski belum setinggi saat perang Rusia–Ukraina pada 2022, lonjakan harga ini mulai berdampak pada biaya produksi pertanian dan harga pangan.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan harga pupuk sebelumnya sempat melonjak tajam saat perang Rusia–Ukraina, lalu mereda pada 2023. Namun saat ini kembali naik meski dalam skala lebih terbatas.
“Sebagai perbandingan, harga pupuk NPK non-subsidi sempat menyentuh Rp17.000 per kilogram saat perang Rusia–Ukraina. Saat ini berada di kisaran Rp15.600 per kilogram, lebih tinggi dari sebelum konflik Iran–AS yang sekitar Rp15.000,” ujarnya.
Kenaikan juga terjadi pada jenis pupuk lainnya. Pupuk KCL kini ditransaksikan sekitar Rp13.000 per kilogram, naik dari kisaran Rp10.000 sebelum Ramadan. Sementara pupuk urea non-subsidi mencapai Rp11.000 per kilogram, meningkat dari sekitar Rp7.000 sebelum konflik.
Tidak hanya pupuk, harga sarana produksi lain seperti herbisida dan insektisida juga ikut mengalami kenaikan. Kondisi ini berdampak pada naiknya harga keekonomian sejumlah komoditas pangan.
Gunawan menyebut, harga keekonomian cabai merah di tingkat konsumen kini berada pada kisaran Rp30.000 hingga Rp36.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp27.000 hingga Rp33.000. Cabai rawit naik dari Rp32.000–Rp38.000 menjadi Rp34.000–Rp40.000 per kilogram.
Sementara itu, harga keekonomian bawang merah meningkat menjadi Rp35.000 hingga Rp39.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp32.000 hingga Rp36.000.
Ia menjelaskan, perhitungan tersebut belum memasukkan biaya panen yang umumnya berkisar Rp100.000 hingga Rp130.000 per pekerja dalam satu kali panen. Namun, harga tersebut sudah mencakup margin keuntungan bagi petani.
“Perhitungan ini berdasarkan sampel petani di Sumatera Utara, sehingga bisa berbeda di daerah lain. Selain itu, sifatnya masih sementara karena harga pupuk dan sarana produksi masih fluktuatif,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan biaya produksi berpotensi mendorong naiknya harga komoditas hortikultura lainnya. Ketidakpastian konflik global juga dinilai masih akan memengaruhi volatilitas harga di pasar.
Meski demikian, harga keekonomian ini dapat menjadi acuan dalam menentukan harga ideal di tingkat petani maupun konsumen saat musim panen mendatang.
“Langkah mitigasi perlu disiapkan agar gejolak harga tidak merugikan petani. Sebab jika petani merugi, dampaknya bisa berbalik ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga di waktu berikutnya,” pungkasnya. (ng)
