Sofyan Tan: Sampah di Medan Capai 2.000 Ton per Hari, Bisa Jadi Energi dan Peluang Ekonomi

Anggota Komisi X DPR RI dr Sofyan Tan saat Bimtek Pelatihan Pemanfaatan Sampah Sebagai Sumber Energi.

Fokusmedan.com : Anggota Komisi X DPR RI dr Sofyan Tan menyoroti tingginya produksi sampah di Kota Medan yang dinilai belum dikelola secara optimal, padahal berpotensi menjadi sumber energi dan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Hal itu disampaikannya saat membuka pelatihan Pemanfaatan Sampah sebagai Sumber Energi yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama DPR RI di Medan, Jumat (10/4).

“Kalau bicara sampah, Medan dan Indonesia ini ‘jagonya’. Produksi sampah kita sangat besar. Di Medan saja pada 2023 mencapai sekitar 2.000 ton per hari, dengan 41 persen merupakan sampah organik,” ujar Sofyan Tan.

Ia menjelaskan, jumlah tersebut bahkan bisa meningkat hingga lebih dari 6.000 ton dalam kondisi tertentu, seperti saat terjadi bencana banjir. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi bencana.

“Sampah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi energi sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Sofyan Tan menekankan, pengolahan sampah menjadi energi seperti listrik dan gas membutuhkan investasi besar sehingga perlu dukungan pemerintah daerah. Ia juga menyinggung keberhasilan pengelolaan sampah di Surabaya yang mampu mengubah sampah menjadi energi.

“Sejak 2010, saya sudah mengusulkan agar sampah tidak lagi dibuang ke TPA, tetapi diolah menjadi energi listrik dan gas yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan UMKM,” ucapnya.

Menurutnya, pengelolaan sampah juga dapat menghasilkan kompos serta produk ramah lingkungan lainnya yang bermanfaat bagi sektor pertanian.

“Kalau satu kompleks perumahan bisa bekerja sama mengelola sampah jadi energi, ini bisa meringankan biaya rumah tangga. Ini peluang ekonomi sekaligus solusi lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti BRIN Fahruddin Joko Ernanda menyebut kondisi pengelolaan sampah nasional masih memprihatinkan. Ia menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 35 juta ton sampah per tahun.

“Kebanyakan sampah di Indonesia belum terkelola dengan baik. Sejak 2018, beberapa daerah bahkan sudah mengalami darurat sampah. Dampaknya bukan hanya pencemaran lingkungan, tapi juga gangguan kesehatan dan banjir,” katanya.

Ia menjelaskan sejumlah metode pengolahan sampah menjadi energi, di antaranya metode biologis untuk menghasilkan biogas dari sampah organik, pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar, serta gasifikasi yang mengubah bahan padat menjadi gas energi.

“Kami juga sudah menggunakan alat pengolah sampah organik yang mampu mengurangi produksi sampah secara signifikan. Ini solusi praktis yang bisa diterapkan di tingkat rumah tangga,” ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, ia berharap masyarakat dapat melihat sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan energi, bukan sekadar limbah. (ng)