
Fokusmedan.com : Kabar duka kembali datang dari misi perdamaian dunia. Jumlah TNI gugur dalam tugas di Lebanon bertambah, seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Dua anggota pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dilaporkan tewas dalam insiden terbaru di Lebanon selatan.
Informasi ini disampaikan oleh United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang menyebut peristiwa itu sebagai salah satu insiden paling mematikan belakangan ini.
Menurut UNIFIL, kedua korban tewas pada Senin setelah sebuah ledakan menghancurkan kendaraan mereka di dekat desa Bani Hayyan. Hingga kini, penyebab pasti ledakan tersebut masih belum diketahui.
Dalam insiden itu, satu personel lainnya mengalami luka parah, sementara satu lainnya dilaporkan terluka.
“Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat mengabdi demi perdamaian,” tegas UNIFIL dalam pernyataannya dikutip dari Aljazeera, Selasa 31 Maret 2026.
Beberapa jam sebelumnya, UNIFIL juga melaporkan insiden terpisah yang menewaskan satu pasukan penjaga perdamaian. Korban meninggal dunia setelah sebuah proyektil meledak di posisi UNIFIL di dekat desa Aadshit al-Qusayr.
Meski sumber serangan belum dapat dipastikan, penyelidikan resmi telah dilakukan untuk mengungkap penyebab kejadian tersebut.
Pemerintah Indonesia Berduka, TNI Gugur Saat Bertugas
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah lebih dulu menyampaikan duka mendalam atas TNI gugur dalam misi perdamaian PBB di Lebanon.
Satu personel TNI dilaporkan meninggal dunia akibat serangan artileri tidak langsung yang menghantam posisi kontingen Indonesia pada 29 Maret 2026.
Selain korban jiwa, tiga personel lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Serangan terjadi di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan—area yang saat ini menjadi titik panas konflik antara militer Israel Defense Forces dan kelompok bersenjata setempat.
Insiden yang menyebabkan TNI gugur ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan intensitas serangan di Lebanon selatan. Konflik yang terus memanas membuat posisi pasukan penjaga perdamaian PBB semakin rentan.
Peristiwa ini kembali menyoroti besarnya risiko yang dihadapi prajurit TNI dalam menjalankan misi kemanusiaan di wilayah konflik. (Rio)
