IHSG Berpotensi Melemah, Rupiah Tertekan Imbas Konflik Global

Ilustrasi dua orang sedang berbincang tentang kinerja IHSG.

Fokusmedan.com : Analis pasar keuangan memprediksi kinerja pasar keuangan Indonesia berpotensi mengalami tekanan seiring meningkatnya tensi global, khususnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Menurutnya, selama libur panjang Nyepi dan Idulfitri 2026, bursa saham di kawasan Asia mencatatkan kinerja negatif. Kondisi tersebut berpotensi berlanjut pada perdagangan di dalam negeri.

“Jika merujuk pada pergerakan bursa saham Asia yang berada di zona merah di awal pekan, maka IHSG berpeluang melemah saat dibuka kembali,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelemahan tidak hanya berpotensi terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga pada nilai tukar Rupiah yang menghadapi tekanan eksternal cukup besar.

Sejumlah sentimen negatif global yang memengaruhi pasar, antara lain kenaikan inflasi Amerika Serikat, penguatan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,4 persen, serta indeks dolar AS yang sempat menembus level 100.

Selain itu, harga minyak mentah dunia juga bertahan di level tinggi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah, yang turut memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk di Indonesia.

“Semua sentimen tersebut mengarah pada potensi memburuknya kinerja pasar keuangan di Asia, termasuk Indonesia. IHSG berpeluang terkoreksi, sementara Rupiah diproyeksikan berada di bawah tekanan,” jelasnya.

Gunawan memperkirakan Rupiah akan berupaya bertahan di bawah level Rp17.000 per dolar AS. Namun, Bank Indonesia diyakini akan melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak melemah lebih dalam.

Di sisi lain, harga emas juga mengalami tekanan di tengah kondisi global saat ini. Tercatat, harga emas berada di kisaran 4.365 dolar AS per ons troy. Jika mengacu pada kurs Rupiah sebelum libur panjang, harga emas berada di sekitar Rp2,39 juta per gram.

Ia menilai tekanan pada harga emas dipengaruhi sikap bank sentral AS yang cenderung hawkish, serta potensi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik yang masih berlangsung.

“Tensi geopolitik yang memanas selama libur panjang telah mengakumulasi sentimen negatif yang dapat memicu tekanan besar di sektor keuangan,” pungkasnya. (ram)