Perempuan sebagai Motor Geo Creative Economy di Kawasan Geopark Kaldera Toba

Perempuan sebagai Motor Geo Creative Economy di kawasan Geopark Kaldera Toba.

Fokusmedan.com : Perkembangan pariwisata berkelanjutan saat ini tidak hanya bergantung pada keindahan alam semata, tetapi juga pada kekuatan masyarakat lokal dalam mengelola potensi ekonomi kreatif yang dimiliki. Di kawasan Geopark Kaldera Toba, kekayaan alam yang spektakuler berpadu dengan budaya Batak yang kuat. Namun, keberlanjutan kawasan ini sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat, khususnya perempuan, sebagai pelaku utama ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Perempuan di banyak desa wisata di Kabupaten Samosir sebenarnya telah lama berperan dalam aktivitas ekonomi berbasis budaya. Mereka memproduksi berbagai produk kreatif seperti ulos, kerajinan tangan, kuliner tradisional, hingga suvenir khas daerah. Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan keluarga, tetapi juga sebagai upaya menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Samosir ini bertujuan untuk melihat sejauh mana perempuan berperan sebagai agen penggerak geo creative economy di kawasan Geopark Kaldera Toba. Geo creative economy merupakan konsep ekonomi kreatif yang memanfaatkan potensi geologi, budaya, dan kearifan lokal sebagai sumber inovasi ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam penelitian ini, sebanyak 200 perempuan pelaku ekonomi kreatif yang bergerak di sektor kuliner, kriya, dan fashion dilibatkan sebagai responden. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods, yaitu kombinasi metode kuantitatif melalui survei serta analisis kualitatif melalui wawancara dan observasi lapangan. Pendekatan ini digunakan untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana perempuan mengembangkan usaha kreatif berbasis potensi lokal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat signifikan dalam menggerakkan ekonomi kreatif di kawasan Samosir. Sebagian besar usaha kecil yang berkaitan dengan produk budaya dan pariwisata dikelola oleh perempuan. Mereka tidak hanya bertindak sebagai produsen, tetapi juga sebagai penjaga nilai budaya yang melekat pada produk yang dihasilkan.

Misalnya dalam produksi ulos, perempuan tidak sekadar menenun kain tradisional, tetapi juga menjaga makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Ulos bukan hanya produk ekonomi, melainkan identitas budaya yang memiliki nilai filosofi bagi masyarakat Batak. Hal yang sama juga terlihat pada produk kuliner tradisional seperti naniura, arsik, serta berbagai makanan khas yang menjadi daya tarik wisata kuliner di kawasan Danau Toba.

Selain berperan dalam menjaga tradisi, perempuan juga mulai menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan pasar. Sebagian pelaku usaha telah memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka kepada wisatawan. Platform digital menjadi sarana baru yang memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Samosir kepada masyarakat yang lebih luas.

Namun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan yang dihadapi perempuan dalam mengembangkan usaha ekonomi kreatif. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan akses terhadap pelatihan kewirausahaan, pemasaran digital, serta penguatan manajemen usaha. Banyak pelaku usaha masih menjalankan bisnis secara tradisional tanpa strategi pengembangan yang terencana.

Selain itu, akses terhadap permodalan juga menjadi hambatan bagi sebagian perempuan pelaku usaha kreatif. Usaha yang mereka jalankan umumnya berskala kecil dan berbasis rumah tangga, sehingga kemampuan untuk memperluas produksi atau meningkatkan kualitas produk masih terbatas.

Oleh karena itu, diperlukan model pemberdayaan yang lebih sistematis agar perempuan dapat memainkan peran yang lebih optimal dalam pengembangan geo creative economy di kawasan Geopark Kaldera Toba. Model pemberdayaan tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan kelompok usaha, serta pengembangan jaringan pemasaran berbasis digital.

Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi yang kuat untuk mendukung proses pemberdayaan ini. Perguruan tinggi dapat berperan dalam melakukan riset, pendampingan usaha, serta pelatihan kewirausahaan. Pemerintah daerah dapat memberikan dukungan melalui kebijakan, akses pembiayaan, dan pengembangan infrastruktur pariwisata. Sementara itu, masyarakat lokal menjadi aktor utama yang menjaga keberlanjutan nilai budaya dan lingkungan.

Pada akhirnya, perempuan bukan sekadar pelaku ekonomi rumah tangga, melainkan agen perubahan yang mampu menggerakkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Melalui pemberdayaan yang tepat, perempuan di kawasan Geopark Kaldera Toba dapat menjadi motor utama dalam membangun ekonomi pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada kekuatan budaya lokal.

Penulis : Ellyta E. Tambunan – Politeknik Pariwisata Medan