Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS per Barel, Rupiah dan IHSG Tertekan

Seseorang sedang memantau pergerakan IHSG di laptop.

Fokusmedan.com : Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan. Untuk jenis Brent saat ini ditransaksikan di kisaran 100 dolar AS per barel.

Analis Pasar Keuangan, Gunawan Benjamin, mengatakan kenaikan harga minyak tersebut turut mendorong naiknya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke level 4,257 persen serta USD Index ke posisi 99,69.

Menurutnya, dua indikator tersebut menggambarkan meningkatnya tekanan inflasi yang mendorong investor kembali memburu surat berharga Amerika Serikat. Kondisi ini juga memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve System, akan menunda pemangkasan suku bunga acuan ketika harga minyak dunia melonjak.

“Penguatan dua indikator keuangan AS tersebut berdampak pada pelemahan mata uang rupiah,” ujarnya.

Pada perdagangan pagi ini, rupiah tercatat melemah ke level Rp16.910 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah juga dipicu meningkatnya eskalasi konflik geopolitik, setelah Amerika Serikat meningkatkan skala serangan terhadap Iran.

Tidak hanya rupiah, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini juga dibuka melemah ke level 7.338. IHSG pun bergerak searah dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang juga ditransaksikan di zona merah pada sesi pagi.

Gunawan menjelaskan, meningkatnya tekanan inflasi ke depan membuat pelaku pasar mengkhawatirkan kemampuan emiten dalam menjaga pertumbuhan laba.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi akibat konflik geopolitik berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi secara fundamental.

Sementara itu, harga emas dunia kembali mengalami tekanan di kisaran 5.125 dolar AS per ons troy. Di pasar domestik, harga emas diperdagangkan di sekitar Rp2,79 juta per gram.

Tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih berlanjut apabila rilis data inflasi Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Di tengah tensi geopolitik yang terus memanas, harga emas masih kesulitan menguat meski ditopang sentimen fundamental, termasuk akumulasi emas oleh sejumlah bank sentral dunia seperti People’s Bank of China. (ram)