
Fokusmedan.com : Harga emas dunia kembali mengalami kenaikan di tengah dinamika pasar global dan ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, harga emas dunia saat ini ditransaksikan naik di kisaran 5.210 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,83 juta per gram.
Kenaikan harga emas terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap inflasi, yang ditopang oleh melemahnya harga minyak mentah dunia di kisaran 84 dolar AS per barel. Sebelumnya, harga minyak sempat mendekati level 120 dolar AS per barel pada awal pekan ini.
“Penurunan harga minyak membuat tekanan inflasi relatif mereda, sehingga mendorong pergerakan harga emas,” ujar Gunawan.
Pelaku pasar saat ini juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan masih berada di atas target bank sentral AS dalam menurunkan suku bunga acuannya. Meski demikian, laju inflasi tersebut diproyeksikan tidak terlalu menjadi perhatian utama pasar di tengah memanasnya konflik antara Iran dengan AS dan Israel.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan terpantau menguat ke level 7.484. Sejumlah bursa saham di Asia juga dibuka di zona hijau pada perdagangan pagi ini.
Gunawan menilai pergerakan IHSG kemungkinan akan mengikuti pola bursa saham Asia. Namun pelaku pasar masih dibayangi kekhawatiran munculnya tekanan yang tidak terduga akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih relatif stabil di kisaran Rp16.855 per dolar AS. Meski demikian, rupiah cenderung bergerak melemah di tengah eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Sebelumnya, pidato Presiden AS sempat memberi sinyal menenangkan bahwa konflik berpotensi segera berakhir. Namun pernyataan tersebut dibalas dengan sikap Iran yang menyatakan akan menentukan sendiri kapan konflik akan berakhir.
Selain itu, sikap pemerintah AS yang kembali bernada lebih agresif terhadap konflik tersebut membuat pasar keuangan global menjadi tidak stabil.
“Kondisi ini membuat pelaku pasar akan sangat berhati-hati dalam menyikapi dinamika geopolitik yang berkembang di Timur Tengah,” kata Gunawan. (ram)
