Outlook Kredit Indonesia Dipangkas, IHSG Anjlok 1,62 Persen ke Level 7.585

Ilustrasi kinerja IHSG.

Fokusmedan.com : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah cukup dalam pada perdagangan hari ini setelah sentimen negatif membayangi pasar keuangan domestik. IHSG terkoreksi 1,62 persen dan berakhir di level 7.585,687.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, pelemahan IHSG terjadi meskipun mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan.

“Setelah sempat berada di zona merah pada sesi pertama, mayoritas bursa saham Asia mampu berbalik menguat. Namun IHSG justru ditutup melemah cukup dalam,” ujar Gunawan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar tercatat menjadi penekan utama pergerakan IHSG, di antaranya BUMI, BMRI, BBRI, BBCA, TLKM, GOTO, ASII hingga ANTM.

Menurut Gunawan, IHSG sulit mengikuti penguatan bursa Asia karena kuatnya sentimen negatif dari dalam negeri yang membebani pasar.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS juga turut memberi tekanan pada pasar saham domestik.

Namun tekanan terbesar berasal dari keputusan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang merevisi outlook surat utang pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif.

“Penurunan outlook tersebut menjadi beban bagi IHSG dan rupiah sehingga pasar keuangan domestik kesulitan untuk bergerak di zona hijau,” jelasnya.

Meski demikian, Fitch masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB atau masih berada pada kategori layak investasi (investment grade).

Di sisi lain, harga emas dunia masih mengalami tekanan dan diperdagangkan di kisaran 5.100 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,78 juta per gram.

Gunawan menjelaskan, salah satu faktor yang menahan laju penguatan emas adalah melambatnya pembelian emas oleh bank sentral dunia.

Berdasarkan laporan World Gold Council (WGC), pembelian emas oleh bank sentral tidak seagresif tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat dampak konflik geopolitik terhadap pembentukan harga emas menjadi relatif terbatas.

Meski begitu, secara fundamental harga emas dinilai masih cukup solid dan berpotensi mengalami kenaikan dalam jangka panjang.

“Terlebih jika eskalasi konflik global memburuk atau perang berlangsung dalam waktu yang cukup lama, emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat,” pungkasnya. (ram)