
Fokusmedan.com : Pasar keuangan global masih dibayangi sentimen geopolitik. Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menyebutkan, sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi pergerakan pasar.
Data initial jobless claims Amerika Serikat menunjukkan kinerja yang sedikit lebih baik dari perkiraan pasar. Klaim pengangguran tercatat sebanyak 213 ribu, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 215 ribu.
“Namun data tersebut tidak banyak mengubah kinerja pasar saham AS. Bursa saham Dow Jones justru ditutup melemah pada perdagangan hari ini,” ujar Gunawan.
Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Asia. Mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah mengikuti sentimen global yang masih negatif.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut ditutup melemah di level 7.699. Menurut Gunawan, pelemahan IHSG terjadi di tengah memburuknya sentimen regional Asia.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menanti rilis data neraca perdagangan Indonesia yang akan menjadi salah satu indikator penting pada perdagangan selanjutnya.
Di sisi lain, peningkatan cadangan devisa Indonesia dinilai dapat meredam kekhawatiran pasar. Hal ini terutama setelah kenaikan harga minyak mentah dunia serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat konflik geopolitik.
Pada perdagangan hari ini, rupiah tercatat melemah ke level Rp16.910 per dolar AS.
“Perang yang masih berlanjut menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan secara keseluruhan,” kata Gunawan.
Ketegangan geopolitik tersebut juga berdampak pada harga emas. Gunawan menjelaskan, konflik yang masih berlangsung membuat harga emas dunia mampu bertahan di atas 5.100 dolar AS per ons troy, atau sekitar 5.131 dolar AS per ons troy.
Meski demikian, harga emas sempat mengalami tekanan tipis. Kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi yang berpotensi menguntungkan dolar AS karena adanya kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga acuan.
Di pasar domestik, harga emas saat ini masih berada di kisaran Rp2,8 juta per gram dengan kecenderungan melemah tipis.
“Jika perang masih berlanjut, secara fundamental emas memiliki peluang untuk kembali menguat. Pergerakan harga emas ke depan masih sangat dinamis di tengah situasi konflik yang belum mereda,” pungkasnya. (ram)
