
Fokusmedan.com : Pembicaraan penting antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir belum menghasilkan kesepakatan final. Meski mediator dari Oman menyebut adanya progres positif dan pertemuan lanjutan dijadwalkan kembali, ketegangan kedua negara masih membayangi pasar keuangan global.
Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, sikap Amerika Serikat ke depan akan menjadi penentu arah pasar. Jika AS memutuskan langkah intervensi militer, maka pasar keuangan berpotensi merespons negatif.
“Sejauh ini pelaku pasar masih memanfaatkan agenda dan data ekonomi sebagai dasar pengambilan keputusan investasi, sembari menunggu kepastian sikap AS terhadap Iran,” ujar Gunawan.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia bergerak di zona merah dan ditransaksikan di level 8.211. Bahkan pada sesi pagi, IHSG sempat melemah di bawah level psikologis 8.100.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga tertekan dan diperdagangkan di kisaran Rp16.785 per dolar AS. Sentimen eksternal turut diperberat oleh memburuknya data klaim pengangguran awal (initial jobless claims) di Amerika Serikat.
Di sisi lain, harga emas dunia relatif stabil di kisaran 5.188 dolar AS per troy ons. Ketidakpastian geopolitik membuat emas masih menjadi aset lindung nilai yang diminati investor.
Gunawan menambahkan, harga emas di dalam negeri saat ini masih bertahan di kisaran Rp2,8 juta per gram. “Pasar cenderung wait and see hingga ada kejelasan arah kebijakan AS atau menjelang pertemuan lanjutan Iran dan AS berikutnya,” katanya.
Menurutnya, selama belum ada eskalasi signifikan, volatilitas pasar masih akan terbatas, namun tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan rilis data ekonomi global. (ram)
