Sejarah Kota Medan Hadir Lebih Interaktif dan Multibahasa Lewat BINUS @Medan Digitalisasi Tjong A Fie Mansion

Mahasiswa Program Studi Computer Science BINUS @Medan ikut berperan aktif dalam BINUS @Medan Digitalisasi Tjong A Fie Mansion.

Fokusmedan.com : Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Kota Medan, museum dan situs sejarah dituntut beradaptasi agar tetap relevan di era digital. Museum tak lagi sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan harus mampu menghadirkan pengalaman edukatif yang inklusif, interaktif, serta mudah diakses lintas generasi dan wisatawan mancanegara.

Menjawab tantangan tersebut, BINUS @Medan berkolaborasi dengan Tjong A Fie Mansion dalam rangkaian IMLEK FAIR 2026 dengan menghadirkan Fa Hua Exhibition yang berlangsung pada 24 Januari hingga 12 Maret 2026. Kolaborasi ini menghadirkan pameran bertajuk “Dari Meixian ke Medan”, sebuah bentuk apresiasi dari Ibu Mimi Tjong terhadap perjalanan hidup, nilai, serta warisan sejarah Tjong A Fie bagi Kota Medan.
Tjong A Fie dikenal sebagai salah satu tokoh kunci dalam perkembangan Kota Medan pada awal abad ke-20. Sebagai pengusaha, filantropis, dan pemimpin komunitas Tionghoa, ia berkontribusi besar dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya.

Hingga kini, Tjong A Fie Mansion menjadi simbol akulturasi budaya Melayu, Tionghoa, dan Eropa, sekaligus pengingat pentingnya toleransi dan kolaborasi lintas budaya dalam membentuk identitas Kota Medan.

Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari pengembangan Digital Museum Tjong A Fie Mansion. Penyusunan proposal dan kontribusi pameran digagas oleh Assoc. Prof. Dr. Yi Ying bersama Michael Batubara dari Institutional Development & Collaboration.

Kegiatan ini melibatkan dosen lintas disiplin melalui hibah PKM skema NICE, di antaranya Evawaty Tanuar (Computer Science), Ignatius Edward Riantono (Digital Business), serta Irwansyah dan Citra Fadillah (Visual Communication Design).

Selain itu, sejumlah mahasiswa Program Studi Computer Science BINUS @Medan turut terlibat aktif dalam pengembangan, yakni Felix Ghanesa, Darryl Jun’eley, Yesen, Vernice Henova Tjhan, Ricky Juantan, dan Jayvin Spielberg.

Direktur Kampus BINUS @Medan, Tri Juniarty, S.Kom., M.M mengatakan, digital museum ini dikembangkan sebagai solusi atas keterbatasan penyajian informasi konvensional, khususnya dalam menjangkau wisatawan asing.

“Melalui pameran ini, BINUS @Medan dan Tjong A Fie Mansion memperkenalkan prototipe museum digital berbasis tiga bahasa : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin yang dapat diakses dan dicoba langsung oleh pengunjung selama pameran berlangsung,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Inisiatif ini, terangnya, juga menjadi wujud nyata komitmen BINUS Berdampak dalam mendukung pelestarian sejarah sekaligus penguatan ekosistem pariwisata budaya Kota Medan.

Dalam pengembangannya, program ini turut mendapat dukungan dari Consulate General of Singapore in Medan, yang ke depan direncanakan akan menjalin kolaborasi lanjutan bersama Nanyang Polytechnic.

Dukungan internasional ini menegaskan komitmen BINUS @Medan dalam memperluas jejaring global serta mendorong inovasi yang mengintegrasikan teknologi, pendidikan, dan pelestarian budaya.

“Melalui kolaborasi ini, BINUS @Medan ingin menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berperan dalam pengembangan industri, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menjaga dan menghidupkan kembali warisan sejarah Kota Medan. Keterlibatan mahasiswa dalam pengembangan digital museum ini merupakan bagian dari pembelajaran bermakna yang berdampak langsung bagi masyarakat,” pungkasnya. (ng)