
Buku karya Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu ini mengajak publik menelaah gagasan kritis tentang perlunya perubahan besar dalam arah pembangunan Indonesia ke depan.
Kegiatan tersebut akan berlangsung pada Kamis, 5 Februari 2026, bertempat di Serayu Café and Space, Medan.
Diskusi ini menghadirkan langsung Dandhy Laksono dan Benaya Harobu sebagai narasumber utama. Perspektif akademik juga akan melengkapi diskusi melalui kehadiran Ibnu Avena Matondang sebagai pembanding.
Direktur Utama Indata Komunika Cemerlang, Fika Rahma, menilai buku Reset Indonesia sebagai cerminan mendalam atas kondisi bangsa saat ini.
“Kita tidak bisa terus berjalan dengan pola lama. Reset Indonesia adalah tawaran untuk memulai kembali dengan fondasi yang lebih kokoh,” tuturnya, Selasa (03/02/2026).
Sejumlah isu strategis akan dibedah dalam forum ini, di antaranya evaluasi kritis terhadap kebijakan publik yang telah berjalan, tawaran visi dan strategi reset di sektor ekonomi, pendidikan, serta hukum.
Diskusi juga dirancang terbuka agar peserta dapat berdialog langsung dengan para pemikir kritis yang hadir.
Acara ini terbuka untuk masyarakat umum. Peserta dapat mengikuti kegiatan dengan melakukan pendaftaran melalui pembelian tiket, yang nantinya ditukarkan dengan buku Reset Indonesia serta snack selama acara berlangsung.
“Dengan membeli tiket, peserta sudah mendapatkan langsung buku Reset Indonesia dan snack dalam acara. Melalui diskusi ini, diharapkan lahir diskursus yang konstruktif demi kemajuan Indonesia yang lebih baik,” papar Fika Rahma.
Lebih lanjut, Fika Rahma menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan berkolaborasi dengan Green Justice Indonesia.
“Jadi kita tidak hanya diskusi tentang buku Reset Indonesia, melainkan ada pameran foto bencana dan talkshow bertema Suara Anak Muda dan Krisis Iklim oleh kawan-kawan dari Green Justice Indonesia,” ungkapnya.
Talkshow tersebut akan mengangkat peran anak muda dalam merespons krisis iklim. Diskusi ini dilatarbelakangi oleh rangkaian bencana banjir dan longsor yang terjadi di penghujung 2025 di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Peristiwa tersebut menelan lebih dari seribu korban jiwa, ratusan orang dinyatakan hilang, ribuan desa terdampak, bahkan puluhan desa dilaporkan lenyap.
Kerugian materi akibat bencana tersebut tak terhitung jumlahnya. Lebih dari sekadar kehilangan nyawa dan harta benda, tragedi ini memperlihatkan tingginya kerentanan wilayah terhadap dampak krisis iklim.
Kerusakan lingkungan, lemahnya kesiapsiagaan, serta minimnya mitigasi berbasis komunitas menjadi faktor yang memperparah situasi.
Rentetan bencana ini menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dan akan terus dihadapi masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan ruang dialog yang mempertemukan beragam perspektif—mulai dari visual, sains iklim, advokasi lingkungan, hingga refleksi kritis melalui literasi publik.
Talkshow ini akan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prayugo Utama dari Voice of Forest, Nanda Fahriza Batubara sebagai jurnalis, Wahyu selaku Kepala Stasiun Klimatologi Sumatera Utara, serta Panut Hadisiswoyo, Direktur Green Justice Indonesia.
