Harga Pangan Turun Tajam, Sumut Diproyeksikan Alami Deflasi 0,56 Persen pada Januari 2026

Ilustrasi Sumut diproyeksikan alami deflasi 0,56 persen pada Januari 2026.

Fokusmedan.com : Setelah mencatat inflasi tinggi pada akhir tahun lalu, Sumatera Utara (Sumut) diproyeksikan akan mengalami deflasi cukup besar pada Januari 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi di awal tahun ini.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan komoditas pangan yang menjadi penyumbang utama deflasi antara lain cabai merah yang turun sekitar 45 persen, cabai rawit turun 13 persen, bawang merah turun 15,4 persen, telur ayam turun 3,62 persen, gula pasir curah turun 6,6 persen, serta minyak goreng curah yang melemah hingga 18,2 persen.

“Di sisi lain, memang masih ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti daging ayam, daging sapi, bawang putih, gula pasir premium, minyak goreng kemasan, hingga emas. Namun secara keseluruhan, tekanan penurunan harga pangan lebih dominan,” ujar Gunawan.

Ia memproyeksikan Sumut akan mencatat deflasi minimal sebesar 0,56 persen secara bulanan (month to month) pada Januari 2026. Penurunan harga komoditas hortikultura, khususnya cabai dan bawang, menurutnya sangat dipengaruhi oleh membaiknya pasokan setelah gangguan distribusi akibat bencana besar pada November 2025 lalu.

“Secara teknikal, harga pangan di Desember 2025 merupakan puncak tertinggi akibat gangguan pasokan. Memasuki Januari, harga mulai terkoreksi seiring pemulihan distribusi dan produksi,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Gunawan menilai lonjakan tekanan inflasi yang biasanya terjadi di awal tahun tidak akan terjadi pada Januari 2026. Sebaliknya, harga sejumlah kebutuhan pokok justru menunjukkan tren penurunan.

Lebih lanjut, Gunawan menyebut beberapa wilayah di Sumut berpeluang mencatat deflasi yang lebih dalam dibandingkan rata-rata provinsi, seperti Gunungsitoli/Nias dan wilayah Tapanuli. Ia mencontohkan harga cabai merah di Gunungsitoli yang mengalami penurunan sangat signifikan.

“Berdasarkan pemantauan melalui PIHPS, harga cabai merah di Gunungsitoli saat ini berada di kisaran Rp33.750 per kilogram. Angka ini sangat jauh dibandingkan Desember lalu yang sempat menyentuh Rp200 ribu per kilogram, bahkan dari sejumlah informasi lapangan mencapai Rp300 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Dengan penurunan tersebut, Gunungsitoli berpotensi mencetak deflasi lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di Sumut. Bahkan, deflasi di wilayah tersebut masih berpeluang berlanjut hingga Februari 2026.

“Namun potensi deflasi lanjutan pada Februari nanti akan sangat bergantung pada seberapa besar deflasi yang terjadi di Januari 2026. Situasinya bisa berbeda dengan mayoritas wilayah IHK di Sumut,” pungkas Gunawan. (ram)