
Fokusmedan.com : Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kian serius mendorong pergantian Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) dalam waktu dekat. Langkah tersebut dinilai berpotensi menekan mata uang dolar AS, mengingat kebijakan The Fed saat ini belum sejalan dengan keinginan Trump yang mendorong pemangkasan suku bunga acuan secepatnya.
Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menilai, pernyataan Presiden AS tersebut berpeluang menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Asia. Pasar semakin meyakini bahwa tekanan politik terhadap The Fed dapat membuka jalan bagi kepastian penurunan suku bunga ke depan. Namun demikian, sentimen tersebut belum sepenuhnya menopang kinerja rupiah.
Pada perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah terpantau melemah di kisaran Rp16.795 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (USD Index) bergerak menguat terbatas di level 96,61.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat di level 8.308, namun berbalik arah dan melemah ke kisaran 8.220. Gunawan memproyeksikan IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan pada perdagangan akhir pekan ini, dengan pergerakan di rentang 8.150 hingga 8.310.
Sementara itu, harga emas dunia kembali mengalami koreksi teknikal setelah mencatat penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya. Saat ini, emas ditransaksikan di kisaran US$5.152 per ons troy, atau sekitar Rp2,8 juta per gram.
Meski terkoreksi, Gunawan menilai emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat. Ada dua faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan harga emas, yakni peluang penurunan suku bunga acuan The Fed serta meningkatnya risiko geopolitik, termasuk potensi konflik dengan Iran yang dinilai kian mendekati fase krusial. (ram)
