
Fokusmedan.com : Indonesia tengah membangun ekosistem carbon accounting yang komprehensif sebagai fondasi menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Perpres 110/2025, yang disahkan pada 10 Oktober 2025 dan menggantikan Perpres 98/2021, membawa sejumlah terobosan krusial. Regulasi ini memperkenalkan dua pilar utama: Pengendalian Emisi Nasional dan Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Keduanya menegaskan bahwa setiap sektor seperti energi, industri, transportasi, hingga kehutanan wajib mengukur, melaporkan, dan menurunkan emisi secara terverifikasi.
Carbon accounting, atau akuntansi karbon, adalah proses pengukuran, pencatatan, dan pelaporan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan oleh aktivitas perusahaan. Di Indonesia, praktik ini telah menjadi kebutuhan strategis yang didorong oleh tiga pilar utama: regulasi, pasar, dan komitmen iklim global.
Di tengah transformasi regulasi dan infrastruktur pasar karbon Indonesia, perusahaan-perusahaan menghadapi pertanyaan fundamental: mengapa harus mulai carbon accounting sekarang? Jawabannya terletak pada konvergensi tiga kekuatan: compliance (kepatuhan regulasi), competitiveness (daya saing pasar), dan contribution (kontribusi terhadap keberlanjutan).
Manfaat Strategis Carbon Accounting antara lain: akses ke pasar karbon dan peluang pendapatan baru, pengurangan biaya, akses ke pembiayaan hijau dan investor ESG, daya saing global dan akses pasar ekspor, reputasi dan kepercayaan stakeholder, serta kontribusi terhadap target iklim nasional dan global.
Dalam konteks ekosistem carbon accounting Indonesia yang semakin kompleks, aplikasi nearzer0 hadir sebagai solusi praktis untuk membantu perusahaan dari semua ukuran dalam mengukur, mengelola, dan mengurangi emisi karbon. Diluncurkan pada 27 Januari 2026 di www.nearzer0.com, platform digital berbasis cloud ini dirancang khusus untuk sistem manajemen karbon dengan standar yang jelas dan kemajuan yang dapat dilacak.
Alfred Menayang, Direktur PT Solusi Dekarbon Interaktif, menjelaskan bahwa aplikasi nearzer0 hadir untuk perusahaan yang sudah melakukan carbon accounting & reporting maupun yang masih berupaya memahami bagaimana mengelola emisi karbon. Fitur-fitur unggulan meliputi modul yang dapat diperluas, struktur organisasi yang fleksibel, kerangka pelaporan kolaboratif, dan faktor emisi yang dapat dikustomisasi.
Indonesia berada di titik kritis dalam perjalanan menuju ekonomi rendah karbon. Dengan regulasi yang semakin ketat, infrastruktur pasar karbon yang terus berkembang, dan tekanan dari pasar global, waktu untuk bertindak adalah sekarang. Carbon accounting bukan lagi sekadar kewajiban administratif, tetapi adalah fondasi strategis untuk keberlanjutan bisnis, daya saing, dan kontribusi nyata terhadap masa depan planet kita.
Bagi perusahaan yang mempunyai komitmen dalam mengelola emisi karbon, kehadiran solusi praktis seperti aplikasi nearzer0 dan infrastruktur pendukung seperti SRN-PPI, SRUK, dan IDX Carbon memberikan jalur yang jelas dan terukur menuju dekarbonisasi. Saatnya mengubah emisi dari ancaman menjadi peluang, dan dari kewajiban menjadi keunggulan kompetitif.(ril)
