
Fokusmedan.com : Kinerja ekonomi Sumatera Utara (Sumut) tetap terjaga sepanjang 2025 di tengah ketidakpastian global. Perekonomian Sumut tumbuh sebesar 4,55 persen (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan III-2025, dengan motor utama berasal dari konsumsi rumah tangga di sisi pengeluaran dan sektor pertanian di sisi produksi.
Dengan capaian tersebut, kata Kepala Kanwil Sumut I, Arridel Mindra, Sumut menjadi kontributor ekonomi terbesar ketujuh di Pulau Sumatera dengan andil 23,58 persen terhadap perekonomian kawasan.
Dari sisi harga, inflasi Sumut secara tahunan tercatat 4,66 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional. Namun secara bulanan, Sumut mengalami deflasi sebesar 0,52 persen (month-to-month/m-to-m), yang menunjukkan perbaikan pengendalian harga.
Kinerja perdagangan luar negeri juga mencatatkan hasil positif. Hingga Desember 2025, neraca perdagangan Sumut membukukan surplus kumulatif sebesar US$6,91 miliar atau tumbuh 34,59 persen (y-on-y), didorong ekspor CPO dan produk turunannya, meski impor pada Desember mengalami peningkatan.
Indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan tren membaik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumut naik 0,94 persen menjadi 76,47, melampaui IPM nasional sebesar 75,90. Gini Ratio turun menjadi 0,295, lebih rendah dari nasional 0,375. Jumlah penduduk miskin menyusut menjadi 1,14 juta jiwa atau 7,36 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2025 tercatat 5,32 persen, turun 0,28 poin persen secara tahunan.
Dari sisi fiskal, kinerja APBN Sumut hingga Desember 2025 tetap optimal. Pendapatan negara tercatat Rp37,20 triliun atau 87,73 persen dari pagu, sementara belanja negara mencapai Rp61,89 triliun atau 95,32 persen dari pagu, dengan defisit sebesar Rp29,69 triliun.
Belanja Pemerintah Pusat terealisasi Rp19,39 triliun atau 91,98 persen dari pagu, sedangkan Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp42,50 triliun atau 96,92 persen dari pagu. Anggaran tersebut mendukung layanan publik strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur.
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Sumut mencapai Rp14,74 triliun kepada 248.587 debitur atau sekitar 21,43 persen UMKM di Sumut, dengan sektor pertanian sebagai penerima terbesar sebesar Rp7,14 triliun. Sementara pembiayaan Ultra Mikro (UMi) tersalurkan Rp937,75 miliar kepada 152.007 debitur, didominasi sektor perdagangan. Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan menjadi daerah penyaluran tertinggi.
Di sisi penerimaan, pajak yang dihimpun Kanwil DJP Sumut mencapai Rp25,4 triliun atau 78,04 persen dari target. Penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp3,50 triliun atau 193,52 persen dari target, didorong Bea Keluar CPO sebesar Rp2,286 triliun atau tumbuh 168 persen (y-on-y). Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari kekayaan negara dan lelang mencapai Rp115,12 miliar atau naik 26,73 persen secara tahunan.
“Perekonomian Sumatera Utara tetap resilien di tengah ketidakpastian global, berkat optimalisasi APBN yang mendukung Asta Cita dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Arridel Mindra.
Ke depan, pemerintah memproyeksikan penguatan kinerja ekonomi Sumut pada 2026 melalui peningkatan ekspor, pengendalian inflasi, serta pemerataan pertumbuhan antarwilayah. (ram)
