
Fokusmedan.com : Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dalam wawancara dengan stasiun TRT World kemarin mengatakan, sejumlah negara Islam memiliki visi ambisius untuk kerja sama Timur Tengah dengan menyerukan negara-negara Arab utama agar melampaui perbedaan dan membentuk platform berbasis keamanan.
Ia menyebut negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sebagai pihak yang sangat berpengaruh di Liga Arab, serta menyoroti kolaborasi efektif dalam Kelompok Kontak Palestina.
Fidan menilai perkembangan terbaru sebagai bukti bahwa dunia Islam telah bangkit, dengan kebijakan negara-negara kawasan untuk mengambil alih penyelesaian persoalan regional mulai menguat.
“Dunia Islam akhirnya terbangun setelah tidur panjang selama 100 tahun,” kata dia, seperti dilansir Turkiye Today.
“Kawasan ini kini harus menutup periode menunggu penyelamat dari luar,” tegasnya.
Butuh Kepemimpinan
“Ketika negara-negara ini menggunakan sumber daya mereka secara bersama-sama, saya telah melihat betapa banyak hal baik yang bisa mereka hasilkan di berbagai bidang,” ujar Fidan.
Ia menekankan perlunya mengakhiri era menunggu penyelamat dari luar dan mendorong penyelesaian cepat ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Menurutnya, kerja sama berkualitas tinggi antara Turki, Arab Saudi, dan Mesir akan sangat penting. Ia juga menyerukan penghapusan persepsi umum tentang keputusasaan dan ketidakmungkinan penyelesaian masalah di dunia Arab.
“Saya yakin semua syarat dan keadaan yang diperlukan sudah ada, berdasarkan penilaian dan analisis yang sangat realistis,” katanya, seraya menambahkan bahwa situasi ini membutuhkan kepemimpinan, visi, niat baik, dan idealisme.
Perdamaian Gaza terhambat Penolakan Israel
Fidan menuduh Israel sengaja mengajukan syarat dan tuntutan baru untuk menghambat kemajuan tahap kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza, meskipun pihak Palestina dan Hamas telah memenuhi kewajiban mereka. Ia menggambarkan Israel seolah-olah mematuhi tekanan internasional, namun tetap mempertahankan tujuan awalnya.
“Ada Israel yang belum meninggalkan tujuan awalnya, dan mencoba melanjutkan langkahnya dengan tampak seolah mematuhi perjanjian ini karena tekanan opini publik internasional,” kata Fidan. Ia menambahkan bahwa kepentingan sejati Israel seharusnya terletak pada pemenuhan tuntutan mayoritas komunitas internasional dan suara nurani global.
Fidan mengungkapkan bahwa koordinasi terkait rencana perdamaian Gaza masih terus berlangsung dengan Amerika Serikat, meskipun mekanisme finalnya belum ditetapkan.
Ia menyebut masih terdapat perbedaan pendapat mengenai negara mana saja yang akan terlibat dan bagaimana operasionalnya dijalankan. Pembicaraan terbaru antara Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden AS Donald Trump juga mencakup implementasi tahap kedua tersebut, serta isu Suriah dan persoalan kawasan lainnya.
Fidan menegaskan Turki siap mengambil peran apa pun yang diperlukan, mulai dari bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi hingga kemungkinan operasi penjaga perdamaian. Namun, ia mengakui bahwa saat ini Israel menentang keterlibatan Turki, meskipun Amerika Serikat memahami pentingnya peran Turki di kawasan.(yaya)
