
Fokusmedan.com : Pemerintah memastikan tidak akan melakukan impor jagung pada 2026 menyusul surplus produksi nasional sepanjang 2025. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan hingga 500 ribu ton guna menjaga harga dan ketersediaan bagi peternak.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, peran Perum Bulog menjadi kunci dalam menyerap produksi jagung dalam negeri. Menurutnya, keberhasilan serapan akan menentukan stabilitas pasokan pada tahun berikutnya.
“Bulog harus siap dari sekarang. Kalau serapan bermasalah, dampaknya akan terasa di tahun depan,” ujar Amran saat dialog bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Heriyadi di Bekasi, Kamis (8/1/2026).
Sepanjang 2025, Bulog telah menyerap 101 ribu ton jagung produksi petani, dengan daerah serapan tertinggi antara lain Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat. Dari Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) tersebut, sebanyak 51,2 ribu ton telah disalurkan melalui program SPHP kepada 3.578 peternak ayam petelur di 17 provinsi.
Untuk 2026, Bapanas tengah mematangkan pelaksanaan SPHP jagung pakan dengan target penyaluran 500 ribu ton, sesuai hasil rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada akhir Desember 2025. Program ini difokuskan bagi peternak ayam layer skala mikro, kecil, dan menengah yang kebutuhan pakannya didominasi jagung.
Saat ini, stok CJP di Bulog tercatat sekitar 45 ribu ton. Pemerintah pun kembali menegaskan kebijakan tanpa impor jagung, baik untuk pakan, benih, maupun konsumsi rumah tangga, karena produksi domestik dinilai mencukupi.
“Jagung kita bahkan sudah diekspor ke Malaysia dan Filipina. Ini bukti produksi nasional sangat kuat,” kata Amran.
Peningkatan produksi jagung juga didukung oleh keterlibatan Polri. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut hasil panen jagung binaan Polri mencapai 3,4–3,5 juta ton. Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto turut mengapresiasi capaian tersebut, seraya menyebut sekitar 20 persen produksi nasional berasal dari dukungan Polri.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional, produksi jagung 2025 mencapai 16,11 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sebesar 15,65 juta ton. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus jagung sekitar 463,9 ribu ton. (ram)
