IHSG Gagal Bertahan di Level 9.000, Ditutup Melemah 0,22 Persen Akibat Aksi Ambil Untung

Ilustrasi kinerja IHSG.

Fokusmedan.com : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 0,22 persen ke level 8.925,471. Pelemahan terjadi setelah IHSG sempat menembus level psikologis 9.000, tepatnya di posisi 9.002, sebelum akhirnya tertekan aksi ambil untung (profit taking).

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, kegagalan IHSG bertahan di atas level 9.000 dipicu oleh tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya dari sektor energi dan pertambangan.

“IHSG dilanda aksi profit taking setelah menyentuh level psikologis 9.000, sehingga gagal menutup perdagangan di level tersebut,” ujar Gunawan, Kamis (8/1/2026).

Sejumlah emiten yang turut menekan pergerakan IHSG di antaranya NCKL, INCO, ANTM, TINS, dan BUMI. Saham-saham sektor energi menjadi kelompok emiten dengan pelemahan terdalam pada perdagangan hari ini.

Gunawan menjelaskan, koreksi IHSG tidak terlepas dari memburuknya kinerja mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Tekanan eksternal tersebut diperkuat oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang ditutup di level Rp16.785 per dolar AS.

“Menariknya, koreksi rupiah justru terjadi di tengah meningkatnya cadangan devisa Indonesia yang mencapai 156,5 miliar dolar AS pada Desember,” jelasnya.

Menurut Gunawan, tekanan yang dialami pasar keuangan domestik saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen regional yang memburuk. Isu geopolitik global masih menjadi faktor utama yang menekan kinerja pasar keuangan nasional.

Sementara itu, rilis sejumlah data ekonomi yang seharusnya menjadi rujukan investasi belum memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati sembari mencermati dinamika politik global yang dinilai semakin meningkatkan ketidakpastian ekonomi ke depan.

Selain IHSG dan rupiah, harga emas juga terpantau mengalami penurunan di kisaran 4.420 dolar AS per ons troy. Di pasar domestik, harga emas saat ini diperdagangkan di sekitar Rp2,39 juta per gram.

“Meski terkoreksi, secara fundamental harga emas masih memiliki peluang untuk menguat dalam jangka pendek,” pungkas Gunawan. (ram)