
Fokusmedan.com : Parlemen Eropa baru saja menyetujui larangan penggunaan istilah seperti “burger” dan “sosis” untuk produk berbasis nabati. Keputusan ini diambil setelah adanya usulan dari anggota Partai Rakyat Eropa (EPP) yang berhaluan tengah-kanan.
Celine Imart, juru runding utama dari EPP, menyatakan, “Steak itu terbuat dari daging, titik. Penggunaan nama-nama ini hanya untuk daging asli demi menjaga kejujuran label, melindungi petani, dan mempertahankan tradisi kuliner Eropa.”
Ia menegaskan hal tersebut menjelang pemungutan suara yang berlangsung pada Sabtu, (11/10).. “Menyebutnya ‘daging’ itu menyesatkan konsumen,” tambahnya. Namun, tidak semua anggota EPP sependapat dengan keputusan ini.
Anggota EPP, Peter Liese, berpendapat, “Kita tidak perlu menganggap konsumen bodoh. Jika kemasan menulis ‘burger nabati’ atau ‘sosis nabati’, semua orang bisa memutuskan sendiri apakah ingin membelinya atau tidak.”
Di sisi lain, Anna Cavazzini dari Partai Hijau Jerman mengkritik keputusan tersebut dengan menyatakan, “saat dunia sedang dilanda berbagai krisis, EPP malah sibuk memperdebatkan soal sosis dan schnitzel minggu ini.”
Ia juga menambahkan bahwa keputusan ini kini tergantung pada Dewan Uni Eropa dan pemerintah Jerman untuk menghentikan “kebijakan yang membingungkan konsumen, merugikan perusahaan, dan tidak membantu petani.”
Organisasi perlindungan konsumen Jerman, Verbraucherzentrale, berpendapat bahwa penggunaan istilah seperti “schnitzel vegan” justru membantu konsumen mengenali produk yang menyerupai rasa daging. “Istilah-istilah itu tidak menimbulkan kebingungan, malah memberikan kejelasan,” kata Astrid Goltz, pakar pangan dari organisasi tersebut.
Supermarket Tolak Larangan Sebutan Daging untuk Produk Nabati
Di Jerman, banyak jaringan supermarket besar seperti Aldi Sd dan Lidl, serta restoran cepat saji Burger King dan produsen sosis Rgenwalder Mhle menentang usulan tersebut dan meminta Parlemen Eropa untuk menolaknya.
Dalam pernyataan bersama sebelum pemungutan suara, mereka menyatakan bahwa konsumen mampu membedakan antara produk daging dan alternatif nabati. Mereka juga mengungkapkan bahwa larangan tersebut “akan memaksa perusahaan menggunakan istilah yang tidak dikenal, mempersulit akses pasar, dan memperlambat inovasi.”
Menurut sebuah studi, potensi pasar produk nabati di Jerman diperkirakan dapat mencapai 65 miliar euro pada tahun 2045, yang dapat menciptakan sekitar 250.000 lapangan kerja baru.
Dukung Industri Daging
Organisasi pengawas konsumen Eropa, foodwatch, menganggap usulan tersebut sebagai langkah untuk memperlambat penurunan konsumsi daging di kalangan masyarakat.
“Dengan dalih melindungi konsumen, UE ingin melarang istilah seperti ‘sosis tahu’ atau ‘schnitzel seitan’. Ini bukan perlindungan konsumen, ini lobi untuk industri daging,” ungkap Chris Methmann, Direktur foodwatch Jerman. Selain itu, lembaga Changing Markets Foundation juga menemukan bahwa industri daging menerapkan taktik agresif dan menyebarkan informasi yang salah untuk menanggapi produk berbasis nabati.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 oleh European Consumer Organization menunjukkan bahwa 80% konsumen tidak keberatan dengan penggunaan istilah seperti “sosis kedelai” atau “schnitzel nabati,” asalkan labelnya dengan jelas menyatakan bahwa produk tersebut terbuat dari bahan nabati.
Menanggapi dorongan Prancis untuk mengatur istilah makanan nabati, Pengadilan Uni Eropa memutuskan pada tahun 2024 bahwa negara-negara anggota tidak diperbolehkan melarang penggunaan istilah yang biasanya diasosiasikan dengan produk hewani.
Meskipun pemungutan suara telah dilaksanakan, hasil akhir mengenai penerimaan istilah baru untuk schnitzel nabati masih belum pasti. Kini, keputusan tersebut berada di tangan para pemimpin negara dan pemerintahan Uni Eropa.(yaya)
