
Fokusmedan.com : Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin menilai sejumlah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) membawa sentimen beragam bagi pasar keuangan pada perdagangan hari ini, Jumat (26/9/2025).
Dari sisi positif, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II tercatat lebih baik dari ekspektasi. Secara kuartalan, ekonomi AS tumbuh 3,8%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya di kisaran 3,3%. Selain itu, permintaan barang tahan lama (durable goods) meningkat 2,9%, padahal sebelumnya sempat dikhawatirkan akan mengalami kontraksi.
Data klaim pengangguran juga lebih rendah dari perkiraan, yakni 218 ribu dibandingkan ekspektasi 233 ribu. Sejumlah capaian ini memberi angin segar bagi pasar saham Asia.
Namun, bagi mata uang Rupiah justru menjadi tekanan. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke 4,177%, sementara indeks dolar AS (USD Index) menguat ke 98,43. Akibatnya, Rupiah terdepresiasi hingga menyentuh level Rp16.770 per dolar AS pada sesi perdagangan pagi.
IHSG yang sempat menguat di level 8.051 saat pembukaan, berbalik melemah hingga menyentuh 8.034. Gunawan memperkirakan Rupiah berpotensi menguji level resisten Rp16.800, sementara IHSG berpeluang menguji support di level 8.000.
Di sisi lain, harga emas global juga ikut tertekan, turun ke level US$3.740 per troy ons atau sekitar Rp2,02 juta per gram.
Menurut Gunawan, membaiknya data ekonomi AS membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Bank Sentral AS (The Fed). “Kebijakan moneter yang lebih ketat inilah yang membuat Rupiah serta harga emas berada di bawah tekanan,” ujarnya. (ram)
