
Fokusmedan.com : Pelaku pasar di tanah air menanti rilis data kepercayaan konsumen pada Februari. Data tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam melihat kondisi belanja masyarakat. Jika data indeks kepercayaan konsumen tersebut membaik, maka akan menjadi katalis positif bagi IHSG maupun Rupiah walaupun pada hari ini, kinerja pasar keuangan di Asia sedang mengalami tekanan.
Mayoritas bursa di Asia kembali ditransaksikan di zona merah. IHSG pada sesi pembukaan perdagangan juga ikut melemah di level 6.535.
Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, melemahan bursa saham dipicu oleh memburuknya kinerja bursa saham di AS, seiring dengan mencuatnya kekhawatiran resesi. Ekspektasi tersebut muncul seiring dengan langkah Presiden AS yang memangkas anggaran belanja pemerintahnya.
Sementara itu, mata uang rupiah pada perdagangan juga ditransaksikan melemah ke level 16.400. Pelemahan rupiah terjadi disaat imbal hasil US Treasury 10 tahun justru mengalami pelemahan hingga ke level 4.1%.
“Memburuknya imbal hasil US Treasury juga dipicu oleh kekhawatiran akan memburuknya resesi yang terjadi di AS,” ujarnya, Selasa (11/3/2025).
Disaat ekonomi AS terancam resesi, lanjut Gunawan, maka pasar memperkirakan adanya kemungkinan pemangkasan bunga acuan yang bisa melemahkan imbal hasil obligasi AS. Akan tetapi masalahnya tidak sesederhana itu, inflasi AS yang belakangan alami kenaikan justru menjadi dilema bagi pelaku pasar keuangan dan tidak hanya berimbas ke pasar keuangan saja.
Ancaman resesi yang terjadi saat ini juga akan berpengaruh terhadap kinerja harga emas. Umumnya emas akan diuntungkan dengan situasi ekonomi yang tidak begitu baik. Namun pada perdagangan pagi ini harga emas lebih rendah dari harga kemarin sore. Di mana harga emas ditransaksikan dikisaran harga $2.888 per ons troy, atau sekitar Rp1.52 juta per gram. (ram)
