
Fokusmedan.com : Akhir-akhir ini masyarakat Kota Medan dan sekitarnya direpotkan dengan kelangkaan LPG 3 Kilogram (Kg). Hampir di semua pangkalan maupun kedai pengecer yang biasa menjual LPG 3Kg sudah beberapa hari mengalami kekosongan.
Berdasarkan pantauan di lapangan di beberapa informasi yang diperoleh, kelangkaan LPG 3Kg terjadi di Kecamatan Medan Perjuangan, Medan Denai, Medan Timur, Medan Tembung, Padangbulan, Medan Polonia. Meski ada, harganya melambung menjadi Rp23 ribu hingga Rp30 ribu per tabung.
“Kami sudah keliling ke beberapa pangkalan yang ada di Kecamatan Medan Perjuangan, Medan Denai, Medan Timur, Medan Tembung, hingga ke kedai-kedai kecil semuanya kosong,” ujar Elita, salah seorang ibu rumah tangga, yang mengaku sudah dua hari keliling mencari gas belum dapat juga, Selasa (25/7/2023).
Sementara, Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengakatakan, ia sendiri menemukan kelangkaan LPG 3 Kg sudah dimulai setelah libur panjang Idul Adha. Selain itu, konsumsi masyarakat meningkat dan juga ditemukan LPG yang mengalami kenaikan harga.
“Dari sejumlah sampel masyarakat menengah ke bawah, ada peningkatan konsumsi LPG 3 Kg selama cuti bersama idul adha kemarin. Jadi misalkan satu rumah tangga sangat sederhana biasanya menggunakan LPG 3 Kg untuk 10 sampai 14 hari, di masa cuti bersama idul adha konsumnya berubah menjadi 6 hingga 10 hari untuk satu tabung LPG 3 Kg. Jadi masalah kelangkaan bisa saja dipicu karena konsumsi yang menguras kuota LPG tersebut,” ujarnya.
Pertamina mengklaim bahwa terjadi kenaikan konsumsi LPG setiap bulan. Kenaikan ini memang akan menggerus kuota LPG di wilayah Sumut, namun tidak menambah kuota LPG justru bisa memicu masalah yang lebih serius yakni kelangkaan, kenaikan harga LPG, penurunan produksi, hingga inflasi dan nantinya bermuara pada perlambatan lebih serius pada kinerja pertumbuhan ekonomi Sumut.
Jika dikaitkan dengan spekulasi bahwa harga LPG mau dinaikkan, lanjutnya, sejauh ini tren harga LPG di tahun 2023 itu justru jauh lebih rendah dari harga di tahun 2022. Harga LPG saat ini ditransaksikan dikisaran $13.7 per MMBTU, dibandingkan dengan kisaran level tertinggi tahun 2022 dikisaran $23.6 per MMBTU.
“Jadi kalau LPG langka saat ini dikaitkan dengan kemungkinan kenaikan harganya dimasa yang akan datang, saya menilai kenaikan harga LPG belum saatnya dilakukan,” jelasnya.
Gunawan menyarankan, agar sebaiknya Pertamina melakukan evaluasi terkait pendistribusian LPG saat ini. Validasi data perlu dilakukan dengan mengecek pasokan di pengecer dan di pangkalan.
“Pastikan tidak ada penumpukan atau penimbunan serta tindakan pengoplosan LPG. Selanjutnya lakukan Sidak terkait penggunaan LPG 3 Kg yang peruntukannya justru digunakan untuk bisnis yang skalanya menengah ke atas,” terangnya.
Ia menambahkan, digitalisasi dengan skema penyaluran yang lebih akuntabel perlu dilakukan. Kalau memang sudah ada tahapan uji cobanya sebaiknya terus diperluaskarena adanya disparitas harga antara subsidi dan non subsidi jelas akan memicu masyarakat untuk lebih memilih yang subsidi.
“Dan bagi masyarakat sebaiknya mulai memilih menu masakan yang lebih bisa mengehemat penggunaan LPG agar kesinambungan ketersediaan LPG rumah tangga tetap terjaga,” pungkasnya. (ng)
