
Fokusmedan.com : Menghadiri Seminar Nasional ‘Spirit Hijrah Sebagai Washilah Membangun Sumatera Utara yang Bermartabat’, Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi menyampaikan tentang pentingnya kejujuran dan kasih sayang tehadap sesama. Dua hal ini sangat dibutuhkan dalam upaya membangun Sumut yang bermartabat
“Pertama adalah soal kejujuran. Dimana nilai itu, akan dapat membawa masyarakat merasa saling percaya satu sama lain,” ujar Edy Rahmayadi dalam sambutannya pada Seminar Nasional yang digelar di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Sabtu (22/7).
Hal prinsip yang kedua, lanjut Edy Rahmayadi, adalah kasih sayang. Nilai ini menurutnya akan dapat menjaga persatuan dan kesatuan, serta saling memberikan manfaat satu sama lain, sesuai kemampuan dan tugasnya.
“Bagaimana kita menginginkan dan melakukan sesuatu tanpa kasih sayang. Rasa itu harus ada dan kita tanamkan dalam diri. Begitu juga dalam rangka membangun Sumatera Utara yang Bermartabat, kita harus memikirkan kesejahteraan rakyat, itulah bagian dari rasa kasih sayang,” katanya.
Sebelumnya, Wakil Rektor I Univa Medan Riduan Harahap dalam sambutannya menyampaikan, bahwa Seminar Nasional bertajuk Spirit Hijrah Sebagai Washilah Membangun Sumut Bermartabat, adalah sebagai bentuk sinergi antara Pemprov Sumut sebagai pengambil kebijakan di dalam membangun peradaban umat, dengan Univa sebagai pusat keilmuan, keadaban yang sangat penting di dalam membangun peradaban umat, khususnya di Sumut yang bermartabat.
Sementara dalam paparannya, Ketua PW Al-Washliyah Sumut Dedi Iskandar Batubara menyampaikan makna dari langkah hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW. Sebab, bukan sekadar syiar Islam secara sederhana, melainkan juga penegakan hukum, keadilan sosial serta merawat persatuan dan kesatuan.
“Kalau kita melihat dan meneladani Rasulullah berhijrah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah mempersatukan Muhajirin dan Anshor. Karena secara bertahap, beliau berusaha melakukan berbagai rekonstruksi di semua aspek kehidupan, sehingga kemudian lahir tatanan baru,” sebut Dedi. (ng)
