
Fokusmedan.com : Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyinggung sulitnya materi dalam ujian praktik pembuatan SIM C. Bahkan kata dia, tidak semua orang diyakininya bakal lulus sekalipun anggota polisi.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni sepakat dengan pernyataan Listyo. Menurutnya, materi yang diujikan sudah tidak relevan dan menjadi keresahan di masyarakat.
“Saya sepakat dengan Pak Kapolri, ujian SIM ini banyak yang tidak relevan dan harus segera diubah guna sesuaikan kebutuhan. Heran juga kita sebenarnya, apa maksud dan tujuan dari materi-materi super sulit seperti itu. Di jalan kan tidak ada yang begitu. Saya aja engga pernah lihat ada jalanan bentuk angka delapan,” ujar Sahroni dalam keterangan (26/6).
Oleh karena itu Sahroni turut meminta Kakorlantas fokus untuk membuat materi ujian yang lebih substantif, terutama aspek psikologi. Sebab Sahroni melihat belakangan ini banyak sekali pemilik SIM yang tidak siap secara mental.
“Jadi tolong Pak Kakorlantas segera rumuskan kembali materi dan tahapan ujian yang lebih substantif. Misal seperti tes psikologi yang lebih up to date, pastikan calon pemegang SIM benar-benar memiliki kesiapan mental dalam berkendara. Agar kasus-kasus tindak arogansi di jalanan seperti belakangan ini dapat kita cegah,” tambahnya.
Sehingga Sahroni merasa ujian SIM bukan sekedar sebagai tahap “unjuk gigi” kemampuan berkendara saja. Melainkan banyak sekali faktor-faktor lainnya yang seharusnya di-cover dalam ujian pembuatan SIM. Sebab peran dan fungsi SIM seharusnya bisa meliputi segala aspek.
“Dirumuskan ulang bukan berarti dipermudah, ya. Tetap saja mendapatkan SIM itu tidak boleh dipermudah karena ini menyangkut keselamatan orang banyak. Tapi kita buat ujian SIM ini harus bisa mencakup lebih banyak variabel yang relevan. Baik itu dari segi kemampuan, pemahaman, hingga kesiapan berkendara. Jadi ujiannya tetap sulit dan ketat, tapi dalam maksud dan tujuan yang jelas,” pungkas Sahroni.(yaya)
