Insentif Pemerintah Diharap Bisa Buat Booming Kendaraan Listrik di Indonesia

Fokusmedan.comSebagai informasi, penjualan mobil listrik di Indonesia sepanjang 2022 telah mencapai 15.437 unit mobil, atau melesat 383,46 persen year on year (yoy) dibandingkan penjualan 2021 yang sebanyak 3.193 unit.

Perusahaan manufaktur komponen otomotif baru saja menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Rapat ini menyetujui pembagian dividen sebesar Rp98,54 miliar atau 25 persen dari laba bersih tahun 2022.

Selain itu, dalam RUPST para pemegang saham juga menyetujui rencana penggunaan laba ditahan sebesar Rp294,63 untuk membiayai ekspansi perseroan dan Rp1 miliar sebagai cadangan umum.

Pemberlakuan insentif Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) mulai berlaku efektif hari ini pada 1 April 2023. Awalnya, pemerintah akan memberikan insentif kendaraan listrik baik insentif mobil listrik, motor listrik dan bus listrik pada hari ini 20 Maret 2023.

Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso berharap, prospek penjualan kendaraan listrik akan meningkat sejalan dengan pemberian insentif, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat oleh pemerintah.

Dia melanjutkan, rencana pemerintah dalam memberi insentif terhadap kendaraan listrik tersebut telah menumbuhkan harapan akan adanya booming kendaraan listrik.”Untuk tahun ini (2023), kami bersiap untuk lari lebih kencang lagi untuk meraih berbagai peluang yang tersedia di depan mata, terutama terkait tren perkembangan industri kendaraan listrik yang semakin cerah,” ujar Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (6/4).

Pihaknya melihat bisnis otomotif akan tetap prospektif pada 2023 di tengah tantangan resesi di tingkat global, yang sejalan dengan meningkatnya permintaan otomotif pada kuartal IV-2022 dan berlanjut ke tahun 2023.

Target Laba

Dengan prospek bisnis otomotif tersebut, DRMA menargetkan pendapatan dan laba bersih tumbuh sekitar 20 hingga 25 persen yoy pada 2023, namun tetap memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi lokal dan global secara seksama.

“Kami optimis, tahun 2023 ini bisnis otomotif akan kembali bertumbuh, mengingat ekonomi diperkirakan akan tumbuh lebih baik dari perkiraan sebelumnya,” ujar Irianto.

Sebagai informasi, pada 2022 DRMA membukukan laba neto Rp396,87 miliar, atau meningkat 87 persen yoy dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp212,69 miliar, setelah dikurangi keuntungan penjualan tanah Balaraja, sebesar Rp92,69 miliar.

Selain itu, perseroan mencatatkan penjualan yang meningkat 34 persen yoy pada 2022 menjadi Rp3,91 triliun, dari sebelumnya pada 2021 sebesar Rp2,91 triliun.(yaya)