14/07/2024 8:10
EKONOMI & BISNIS

Awal Tahun 2023, Sumut Masih Dibayangi Laju Tekanan Inflasi

Ilustrasi Sumut akan dibayangi inflasi awal tahun. Ist

Fokusmedan.com : Sepekan sebelum awal tahun 2023, masyarakat di Sumatera Utara (Sumut) dikejutkan dengan lonjakan sejumlah kebutuhan hidup yang memberikan dorongan besar pada kenaikan laju inflasi. Dua komoditas yang paling besar memberikan andil inflasi adalah harga rokok dan beras.

Pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, meski demikian, perhitungan bisa saja berbeda dengan yang dirilis lembaga resmi nantinya. Untuk harga rokok misalnya, sejumlah pedagang masih ada yang mempertahankan harga jual rokoknya, meskipun keuntungan kian tergerus atau menipis, tetapi sejumlah pedagang lainnya justru berani menaikkan harga rokok perbungkus sekitar 10%.

Untuk harga beras juga demikian, naik di pekan terakhir jelang tutup bulan Januari, di mana variasi harga di lapangan juga terlalu banyak. Meskipun secara keseluruhan dalam tren naik selama januari.

“Saya menilai beras dan rokok akan menjadi penyumbang inflasi di Januari ini. Dan kemungkinan adanya kenaikan harga pada bulan Februari cukup berpeluang,” ujarnya, Selasa (31/1/2023).

Sementara untuk beras, di mana intervensi harga oleh Bulog dilakukan secara estafet, maka variasi harga beras juga belum merata, dan menyisahkan potensi naik harga di beberapa pedagang pada februari ini.

Untuk komoditas lainnya yang mengalami kenaikan adalah minya goreng sekitar Rp1.000 per Kg menjadi Rp15 ribuan, cabai rawit naik sekitar Rp4 ribuan per Kg di Januari, bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan.

Secara keseluruhan, Sumut masih akan dibayangi dengan laju tekanan inflasi, sekalipun pada Desember dikejutkan dengan realisasi inflasi yang mencapai 1.5% secara bulanan.

“Saya berharap laju tekanan inflasi di Sumut pada Januari ini bisa di bawah 0.3% secara bulanan. Meskipun peluang di bawah 0.2% sangat terbuka, jika melihat potensi perbedaan pencatatan harga yang cukup besar pada beberapa komoditas seperti rokok, beras, dan cabai merah,” katanya.

Menurut Gunawan, kenaikan laju tekanan infasi ini tentunya menjadi awal yang buruk di tahun 2023 ini. Karena inflasi Januari terjadi disaat mengharapkan adanya deflasi setelah inflasi tinggi di akhir tahun 2022.

“Dengan menyisahkan beberapa masalah seperti kenaikan biaya input produksi pertanian, potensi cuaca kering, geopolitik yang kian memanas hingga potensi kenaikan harga energi maka secara keseluruhan tugas pengendalian inflasi masih memiliki banyak tantangan,” pungkasnya.(ng)