Diskusi dengan Otoritas Bandara Kualanamu, KPPU Prediksi Harga Tiket Bakal Naik

KPPU Kanwil I Medan diskusi dengan Otoritas Bandara Kualanamu. Ist

Fokusmedan.com : Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPu) Kantor Perwakilan I Medan memerediksi harga tiket pesawat akan naik lagi. Ini dikarenakan menyusul kebijakan Kementerian Perhubungan yang mengizinkan maskapai penerbangan menaikkan harga tiket pesawat maksimal 15 persen dari tarif batas atas (TBA).

Pada 4 Agustus 2022 Kemenhub mengizinkan maskapai penerbangan menaikkan harga tiket pesawat maksimal sebesar 15% dari tarif batas atas (TBA) untuk pesawat jenis jet dan maksimal 25% dari TBA untuk pesawat jenis propeller.

Mencermati hal tersebut, KPPU Kanwil I kembali mengadakan diskusi dengan Otoritas Bandara Kualanamu terkait kebijakan tarif angkutan udara. Hadir dari pihak Otoritas Bandara Wilayah II, Kepala Seksi Pengoperasian Bandar Udara, Sigit Yudha P Munthe bersama tim, Haposan Simanjuntak dan Firdaus.

Dalam diskusi pada 3 Agustus 2022 tersebut Sigit mengungkapkan, kenaikan harga tiket pesawat memang tidak bisa terhindar karena ada kenaikan harga energi termasuk bahan bakar pesawat yaitu avtur. Harga avtur pertamina terus mengalami kenaikan sejak Bulan Januari 2022 hingga Bulan Juli ini sekitar 64,4%, yakni dari harga Rp12.099,91/liter menjadi Rp19.889,31/liter.

Dalam diskusi tersebut juga dibahas terkait perhitungan tarif batas atas (TBA) sesuai dengan KM 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

“Kita ambil contoh untuk rute Medan-Padang dengan menggunakan pesawat proppeler diatas 30 seat, tarif batas atasnya Rp1.555.000, maka basic fare dari maskapai maksimal adalah 85%-nya atau Rp1.321.750. Selanjutnya fuel surcharge yang diperkenankan adalah 25% dari TBA atau 25% dari Rp1.321.750, yakni Rp330.438. Nantinya ditambah airport tax, jika kualanamu sebesar Rp127.650. Lalu ditambah PPN 11% dari basic fare ditambah fuel surcharge, atau sebesar Rp181.741 dan biaya lain-lain misalnya Rp5.000, maka maksimal harga tiket sesuai ketentuan adalah Rp.1.965.828,” ujar Haposan.

Kepala Kanwil I KPPU, Ridho Pamungkas mengatakan, pasar transportasi udara adalah pasar yang oligopoli, bahkan di beberapa rute merupakan pasar monopoli. Sehingga perlu pengawasan terhadap perilaku dari pelaku usaha agar tidak memanfaatkan kekuatan monopolinya untuk menetapkan tarif penerbangan yang eksesif karena konsumen tidak memiliki banyak pilihan.

Berdasarkan hitungan tersebut, Ridho mengatakan, KPPU menyerahkan sepenuhnya pada pihak Otoritas Bandara dan Kementerian Perhubungan apabila ditemukan adanya maskapai yang menjual tiket di atas ketentuan. Selain itu, masyarakat juga dapat melaporkan pada Otoritas Bandara apabila menemukan harga tiket yang di atas ketentuan.

“Dengan aturan terbaru yang menaikan kembali tambahan biaya avtur, tentunya pemerintah telah memperhitungkan kemampuan maskapai dan daya beli masyarakat, terutama juga mendukung pemulihan ekonomi. Untuk itu kami meminta pada pihak Otban untuk meningkatkan pengawasannya serta menghlimbau kepada pihak maskapai yang masih menjual tiket di atas ketentuan TBA untuk mematuhi aturan pemerintah, terutama dalam hal perhitungan fuel surcharge,” tandas Ridho.(ng)