IHSG dan Rupiah Bergerak Anomali, Harga Emas Tembus Rp1 Juta per Gram

Ilustrasi kinerja IHSG. Ist

Fokusmedan.com : Data inflasi dan perang Rusia-Ukraina masih menghantui pasar keuangan global. Di mana banyak pelaku pasar yang masih ketakutan melihat perkembangan ekonomi di banyak negara.

Analis Pasar Keuangan Gunawan Benjamin mengatakan, inflasi dikhawatirkan akan mendorong kenaikan suku bunga acuan di banyak negara. Kenaikan suku bunga acuan tersebut nantinya akan memicu tekanan di pasar keuangan.

Bursa saham di Eropa, Asia maupun Eropa selama perdagangan pekan ini mengalami tekanan yang cukup besar. Namun kinerja IHSG justru masih mampu bertahan di zona hijau meskipun kerap juga masuk dalam zona merah. IHSG ditutup menguat 0.67% di level 7.262,77.

Di sisi lain kinerja mata uang Rupiah juga terpantau stabil, pada perdagangan sore ini kinerja mata uang Rupiah di transaksikan di kisaran level 14.353 per US Dolar.

“Tekanan eksternal di mana banyak kinerja bursa saham yang mengalami tekanan, termasuk juga mata uangnya. Rupiah dan IHSG sampai sejauh ini justru masih mampu bertahan dari tekanan tersebut,” ujarnya, Rabu (13/4/2022).

Pasar keuangan nasional bergerak anomali sekalipun dibayangi sejumlah sentimen buruk eksternal. Sementara itu, terkait dengan perang yang belum berkesudahan, Korea Utara yang berencana meluncurkan rudal nuklirnya hingga kemungkinan masuknya Swedia dan Finlandia ke dalam blok NATO membuat pelaku pasar kian mengkhawatirkan kemungkinan memanasnya hubungan geo politik di banyak negara.

Hal ini tersebut memicu terjadinya kenaikan pada harga emas dunia. Di mana harga emas dunia saat ini ditransaksikan dikisaran level $1.970 per ons troynya.

“Jika dirupiahkan harga emas berada dikisaran harga Rp912 ribu per gram. Tentunya kalau di butuk atau toko emas, harge emas sudah kembali tembus Rp1 juta per gram,” pungkasnya.(ng)