Perbatasan Polandia-Belarus Memanas, Ukraina Kirim 8.500 Tentara

Pasukan Ukraina dikerahkan menjaga perbatasan dengan Belarus di kawasan Volyn. Reuters

Fokusmedan.com : Ukraina disebut mengirim 8.500 tentaranya ke garis depan, buntut panasnya situasi di perbatsaan Polandia dan Belarus.

Presiden Belarus Alexander Lukashenko sebelumnya mengancam bakal mencabut pengiriman gas alam ke seluruh Eropa. Sebabnya Uni Eropa sudah melontarkan peringatan bakal menjatuhkan sanksi baru, dan menuding Minsk “mempersenjatai” migran ilegal.

Dikabarkan ribuan imigran dari Timur Tengah diarahkan pasukan Belarus di perbatasan, membuat Polandia mengerahkan 15.000 prajuritnya.

Sumber kepolisian lokal kepada Daily Mail
mengungkapkan, tentara Belarus membuat lubang di pagar berduri.

Dampaknya, sekitar 400 migran, kebanyakan berasal dari Suriah dan Irak, masuk dan lari menuju ke Polandia.

Lithuania, Estonia, dan Latvia merespons ketegangan tersebut dengan merilis pernyataan gabungan yang mengecam Minsk.

Dilansir Kamis (11/11/2021), ketiga negara itu menyatakan “serangan hibrida” Minsk adalah insiden serius yang bisa berujung perang.
Ukraina yang bukan anggota Uni Eropa sangat khawatir, sehingga memberangkatkan 8.500 serdadunya ke perbatasan dengan Belarus.

Dalam pernyataan Kiev, mereka akan menggelar latihan perang skala besar, yang juga melibatkan 15 helikopter.

Rusia, yang merupakan sekutu dekat Minsk, menanggapi dengan mengirim dua pesawat pengebom selama dua hari beruntun.
“Jika (Uni Eropa) sampai menjatuhkan sanksi, maka kami harus merespons,” kata Lukashenko, Presiden Belarus selama lebih dari 30 tahun tersebut.

Pemimpin yang berjuluk diktator terakhir “Benua Biru” itu mengatakan, dia sudah memberikan sikap hangat ke negara-negara Eropa.

“Tapi mereka malah mengancam kami. Bagaimana jadinya jika kami memutuskan mencabut saluran gas alam,” koarnya.

Lukashenko merujuk kepada saluran gas Yamal-Europe, salah satu dari tiga pipa utama Rusia ke “Benua Biru”.

Pada Rabu (10/11/2021), para menteri Eropa sempat mengusulkan kebijakan yang populer di era mantan presiden AS Donald Trump. Yakni membangun tembok untuk mengadang para migran, termasuk merumuskan sanksi untuk menekan Alexander Lukashenko.(ng/Kompas.com)