20/04/2024 15:21
NASIONAL

Menparekraf Minta Pelaku Wisata Beradaptasi Pariwisata Era Baru

Ilustrasi pariwisata Bali. Antara

Fokusmedan.com : Pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal 2020 membuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) Indonesia mengalami cobaan berat. Pasalnya, pandemi memaksa seluruh
pelaku yang terlibat di sektor parekraf untuk sejenak mundur dan berhenti dari aktivitasnya.

Hal tersebut terlihat dari tingkat okupansi hotel di Indonesia yang mengalami penurunan signifikan, yakni dari 56,73 persen pada Juli 2019 menjadi 28,07 persen pada Juli 2020.

Adapun Bali menjadi pulau paling terdampak dari penurunan tersebut dan disusul oleh
Sulawesi Utara dan Yogyakarta. Agar sektor pariwisata kembali menggeliat, para pelaku parekraf dituntut untuk mampu beradaptasi dengan situasi saat ini, salah satunya adalah dengan menerapkan standar cleanliness, health, safety, and environment sustainability (CHSE).
Selain itu, mereka juga dituntut untuk lebih inovatif dalam memasarkan produk wisata agar dapat bertahan di tengah ketidapastian yang terjadi.

Untuk mempersiapkan pelaku parekraf dalam menghadapi tren pariwisata pasca pandemi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf ) meluncurkan strategi baru, yakni pariwisata era baru.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, pelaku sektor parekraf harus segera berdaptasi dengan meningkatkan kualitas dibanding kuantitas dalam mempersiapkan pariwisata era baru.

“Pariwisata era baru adalah kondisi yang dinantikan oleh pelaku usaha hotel dan restoran. Kami memahami bahwa Covid-19 memang tidak akan hilang. Paling tidak, akan ada untuk beberapa tahun ke depan. Maka, praktik pengelolaan hotel dan restoran akan berubah, terutama dalam fokus soal kebersihan, kesehatan, dan keamanan,” ujar Sandi dikutip Kompas.com, Kamis (30/9/2021).

Sementara itu, Ketua BPD PHRI DKI Jakarta Dr Ir Sutrisno Iwantono mengatakan, pariwisata era baru akan menjadi ciri di semua sektor pariwisata, khususnya hotel.

“Jadi, kemungkinan kebiasaan menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak akan terus diterapkan. Kesehatan dan kebersihan akan menjadi ciri hotel dan restoran dalam menyongsong era baru,” kata Sutrisno.

Selain beradaptasi dengan situasi pandemi, para pelaku pariwisata juga diharuskan untuk bisa menyesuaikan diri dengan keberadaan teknologi digital.

Pasalnya, menurut data We are Social Hootsuite, per Januari 2021, jumlah pengguna internet di Indonesia naik 73,7 persen. Hal tersebut menunjukkan, selama satu tahun terakhir terjadi penambahan 27 juta pengguna internet di Indonesia.

Oleh karena itu, salah satu strategi yang dilakukan Kemenparekraf dalam mengembangkan sektor parekraf adalah dengan mendorong para pelaku parekraf untuk go digital.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah telah menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk menyongsong akselerasi digital dalam sektor parekraf.

Pada pelatihan tersebut, pemerintah fokus pada peningkatan keterampilan, mulai dari membangun branding di dunia digital, mengembangkan pemasaran secara digital, hingga mendatangkan penjualan online.
Selain digitalisasi, Sandi mengatakan, tren pariwisata pascapandemi mengarah pada normalize, customize, localized, dan personalize smaller in size.

Ia menambahkan, tren pariwisata era baru juga mengedepankan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan lingkungan.

“Oleh karena itu, Kemenparekraf mulai mendorong agar destinasi wisata dapat mengimplementasikan dan mematuhi konsep environmental, social, dan governance (ESG). Salah satu realisasi dari ESG adalah menggenjot pariwisata berbasis alam terbuka. Contohnya dengan optimalisasi potensi desa wisata,” jelas Sandi.

Adapun salah satu cara yang dijalankan pemerintah untuk mengembangkan potensi desa wisata adalah dengan mengadakan ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021
Ajang ini berhasil mendapat sambutan yang luar biasa dari para pengembang desa wisata yang ada di seluruh Indonesia.

Upaya pemerintah dalam mengembangkan strategi pariwisata era baru berhasil mendapatkan respons positif dari para pelaku parekraf.

Salah satunya berasal dari pelaku parekraf yang ada di Bali. Saat ini, mereka tengah berupaya untuk mengoptimalisasi sektor wisata di berbagai sisi.

Selain itu, untuk menunjang protokol kesehatan, mereka juga menjalankan program vaksinasi sesuai anjuran pemerintah. Saat ini, proses vaksinasi yang diberikan terhadap masyarakat Bali telah mencapai 70 persen.

Tak hanya itu, keseriusan mereka dalam menyambut pariwisata era baru juga ditunjukkan dengan maraknya pelaku pariwisata yang tengah mempersiapkan sertifikasi CHSE.

Seperti diketahui, sertifikasi CHSE berperan penting untuk mengembalikan kembali kepercayaan wisatawan.

Pasalnya, sertifikat tersebut mampu memberikan jaminan kepada wisatawan terhadap pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.
Bentuk kesiapan lain yang ditunjukan oleh para pelaku parekraf adalah mempermudah wisatawan dalam mengakses akomodasi wisata, seperti proses pemesanan tiket, pemesanan hotel, dan proses pembayaran yang dilakukan dengan metode cashless environment atau pembayaran digital melalui smartphone.

Selain itu, untuk pelaku industri perhotelan, mereka tengah didorong untuk mengembangkan strategi baru akomodasi wisata di tengah pandemi, mulai dari pivoting, positioning, dan contactless experience.

Dengan segala kesiapan yang tengah dilakukan para pelaku parekraf tersebut, Kemenparekraf berharap para pelaku parekraf dapat memberikan kenyaman dan keamanan bagi wisatawan saat berlibur.

Dengan begitu, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia dapat bangkit kembali dari keterpurukan dan menjadi lokomotif dalam kebangkitan ekonomi nasional.(ng)