20/06/2024 22:20
INTERNASIONAL

Varian Beta dan Delta Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19 di Uni Emirat Arab

Fokusmedan.com : Kasus baru virus corona di Uni Emirat Arab sebagian besar berasal dari varian lebih menular yang menyebabkan peningkatan jumlah kematian COVID-19, menurut otoritas federal.

Negara Teluk Arab, dengan populasi sekitar 9 juta itu, melaporkan salah satu tingkat vaksinasi tercepat di dunia.

Akan tetapi, kasus COVID-19 di negara itu melonjak selama sebulan terakhir menjadi lebih dari 2.000 kasus per hari, meski masih di bawah puncaknya pada Februari.

Pada Sabtu UAE mencatat 10 kematian COVID, angka harian tertinggi sejak Maret, menurut pelacakan COVID-19 Reuters.

Varian Beta, yang mulanya muncul di Afrika Selatan, menjadi yang paling dominan di UAE, dengan 39,2 persen kasus, katanya.

Varian Beta, yang mulanya muncul di Afrika Selatan, menjadi yang paling dominan di UAE, dengan 39,2 persen kasus, katanya.

Varian Delta, yang pertama kali terdeteksi di India, menyumbang 33,9 persen kasus. Sementara, varian Alpha, yang awalnya ditemukan di Inggris, berkontribusi 11,3 persen dari kasus, menurut NCEMA di Twitter, Minggu malam.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) Juni ini memperingatkan, Delta secara umum menjadi varian COVID dominan dengan penularan yang tinggi.

Orang-orang yang usai bepergian ke Afrika Selatan atau India dalam 14 hari terakhir dilarang memasuki UAE, dengan pengecualian warga negara dan diplomat.

NCEMA mendesak masyarakat agar bersedia divaksin, mengatakan bahwa 92 persen dari orang-orang yang dibawa ke perawatan intensif tidak disuntik vaksin. Sedangkan 94 persen dari korban meninggal tidak divaksin.

Banyak di negara tersebut yang telah mendapatkan vaksin COVID-19 buatan China Sinopharm, sementara vaksin Pfizer-BioNTech, AstraZeneca dan Sputnik V juga ditawarkan kepada warga negara dan warga setempat.

Menurut NCEMA, 91,8 persen dari mereka yang memenuhi syarat telah divaksin, mewakili 71 persen penduduk.

Peneliti pusat pengendalian penyakit China pekan lalu menyebutkan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh dua vaksin COVID-19 buatan China kurang ampuh melawan varian Delta dibanding dengan vaksin lainnya, namun masih memberikan perlindungan.(yaya)