Pembayaran Klaim AXA Mandiri di Sumut Meningkat Rp5 Miliar di 2020

Direktur PT AXA Mandiri Financial Services, Rudi Nugraha. Ist

Fokusmedan.com : PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) mencatat, pembayaran klaim asuransi di wilayah Sumatera Utara (Sumut) meningkat Rp5 Miliar dibanding tahun lalu. Dengan rincian total klaim di 2019 senilai Rp32 miliar sedangkan pada 2020 mencapai Rp37 miliar.

Secara nasional, kinerja klaim asuransi sebesar Rp4,8 triliun. Di antara klaim itu tercatat Rp15 miliar untuk klaim nasabah Covid-19.

Direktur AXA Mandiri, Rudi Nugraha mengatakan, selama masa pandemi, klaim kesehatan di AXA Mandiri mengalami penurunan tetapi klaim produk asuransi jiwa meningkat. Hal ini karena masyarakat tidak lagi mengunjungi rumah sakit kecuali sudah parah namun disaat yang sama, nasabah yang meninggal juga meningkat.

Diakui Rudi, saat pandemi seperti ini banyak tantangan di dunia asuransi namun ini bisa menjadi peluang untuk menambah nasabah. Pasalnya, pihaknya terus memaksimalkan pelayanan digitalisasi dalam memasarkan produk asuransi termasuk menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan nasabah.

“Saat ini, untuk wilayah Sumut, jumlah polisi AXA Mandiri mencapai 63.000 lebih atau sekitar 6% dari total nasabah AXA Mandiri,” ujarnya dalam Webinar “Tantangan dan Peluang Industri Asuransi Jiwa di 2021”, Rabu (19/5/2021).

Tentu, kata dia, ini juga peluang untuk menggaet warga Sumut menjadi nasabah AXA Mandiri meski di tengah pandemi Covid-19. AXA Mandiri banyak menawarkan segmentasi besar hingga murah seperti Mandiri Mikro Sejahtera dengan pembayaran Rp50 ribu.

“Produk yang kami tawarkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan nasabah. Jadi kami sesuaikan segmennya karena kondisi market,” ujar Rudi.

Sementara, Kabag Pengawasan Pasar Modal Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumbagut, Risca Pasaribu menambahkan, pandemi Covid-19 ini prospek asuransi kesehatan dan jiwa masih tetap ada karena masyarakat masih ada yang membeli asuransi. Maka literasi mengenai asuransi harus terus digencarkan serta memanfaatkan informasi technology (IT).

“Selain harus meningkatkan literasi atau pengetahuan mengenai asuransi yang saat ini masih 19,4% saja, fitur IT mengenai asuransi juga masih banyak yang ribet sehingga masyarakat masih banyak yang malas membeli asuransi. Apalagi milenial saat ini menggunakan teknologi itu lebih pada cenderung konsumtif untuk media sosial seperti tik tok, whatsapp, facebook dan lainnya. Maka ini menjadi tantangan untuk perusahaan asuransi ke depannya,” terangnya.
Pemerhati Ekonomi dari USU, Aryanti Sariartha Sianipar dalam diskusi tersebut kondisi ekonomi pada pandemi Covid-19 ini memang melemahkan ekonomi masyarakat sehingga membuat rakyat miskin bertambah. Akan tetapi ada juga pihak yang surplus di masa pandemi ini.

“Maka perusahaan asuransi sendiri bisa memasarkan segmentasi ke pihak yang surplus tadi. Meski banyak masyarakat  yang trauma pada industri asuransi ini lantaran premi mereka gak belek seperti yang diharapkan. Nah itu juga menjadi tantangan bagi industri asuransi,” tutupnya.(ng)